Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘tegal’

 
 

<>Jakarta sebenarnya bukan lagi kota yang serba mahal. Hanya gaya hidup dan pola hidup dijakarta ini yang mengakibatkan masyarakat harus mengeluarkan uang berlipat dibanding masyarakat yang hidup di kota kecil seperti garut atau ciamis. Tengoklah untuk masuk tol dalam kota saja sekali jalan, kita musti keluar Rp 5.500,- dan untuk parkir saja Rp 2.000,-/jam. Bayangkan saja bila kita tinggal di bekasi dan harus parkir dikantor selama 8 jam. Artinya uang yang musti keluar sebesar adalah Rp 27.000,-/hari. Belum lagi untuk uang bensin, yang takaran akan bertambah bila kondisi jalan macet diakibatkan banyak galian, dan demonstrasi yang sudah menjadi makanan sehari-hari. Capek memang hidup dijakarta, tapi mau apa dikata, disinilah banyak orang datang untuk bertaruh untung serta nasib demi material yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup.

Untuk urusan isi perut, jakarta memang gudangnya kuliner, dari makanan pinggiran jalan, sampai makanan di lantai 21 sebuah gedung di jakarta yang tidak hanya menyediakan makanan tapi juga menyediakan pemandangan indah malam hari dari ”roof top” yang serasa romantis. Kita tengok makanan di satu warung tegal di kawasan Benhil jakarta pusat. Harga sepiring nasi dengan 3 macam lauk non hewani kita cukup membayar Rp 5.000,-. Tak semahal yang dibayangkan, yang penting kenyang karena rasa daging atau tahu setelah masuk ke lambung tidak ada beda rasanya.

<>Bisnis warung tegal sementara ini menjadi tumpuan bagi sebagian masyarakat yang menyediakan jasa kuliner bagi masyarakat marginal di jakarta. Tapi dengan kondisi ekonomi yang dirasa sulit dengan ancaman kenaikan BBM,gas, dan bahan makanan yang semakin tinggi, para eksekutif muda pun melirik warung tegal menjadi tempat alternatif yang dilirik untuk melegakan hasrat perut di siang hari. Maklumlah, orang kantoran tidak dapat kenaikan gaji walau BBM akan naik. Lebih mending jadi PNS. Kenaikan BBM kadang di jadikan justifikasi untuk kenaikan gaji pegawai negeri di tahun depan.

Apakah masyarakat marginal terusik dengan para eksekutif kantoran ke warung tegal mereka? Bagi si pemilik warung ini adalah satu peluang, bahwa dagangan mereka tambah laris. Tapi disisi lain, dagangan mereka bisa terancam naik harganya juga lantaran minyak atau gas yang mereka gunakan untuk memasak ternyata tidak semurah seporsi nasi warung tegal mereka.

Ibarat balon berisi air. Dipencet disisi depan, menggelembunglah sisi belakang, demikian juga sebaliknya. Ini negeri punya kenyataan yang hampir mirim dengan belahan benua Afrika, dimana diam-diam masih banyak menyimpan anak-anak bahkan orang dewasa yang kurang gizi. Antri beras dan antri minyak bukan lagi pandangan tabu dijakarta. Sudah merdekakah kita? Atau ada penjajahan terselubung yang menguasai hajat hidup orang banyak, sehingga sebagian masyarakat tercekik? Mungkin perlu jadi menteri dulu untuk menjawab pertanyaan ini…

<>Kembali ke nasi warung tegal, untuk meneruskan hidup dijakarta, warung nasi tegal bisa menjadi alternatif terbaik untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yaitu makan. Bagi si pemilik yang sudah belasan tahun dijakarta pun warung tegal nya juga segini-gini tidak berkembang jadi sebesar padang sederhana atau natrabu. Mengapa? Ya karena si pemilik lebih memilih membela rakyat kecil dalam menentukan harga agar terjangkau oleh rakyat kecil. Idealisme ini telah berpuluh-puluh tahun melekat dan mendarah daging setiap kita menyebut warung tegal. Yang terlintas dibenak kita Cuma satu…pasti MURAH. Bisakah harga bahan pokok atau migas di Indonesia menjadi murah?? Let’s take answer by yourself.

 
     

Advertisements

Read Full Post »