Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘sajak’

=======================================

Sendiri termenung dalam kesenyapan senja, menatap kosong lurus ke depan…Dalam kesendirian sepi mendekap erat berteman malam dan seutas penyesalan yang tak segera pergi…Dia sendiri terpekur tegak dalam kepatuhan dan kepenatan memendam harap dan bara yang sama-sama menyala…Tak tahu apa yang dinanti kecuali nyanyi sunyi yang kan datang tanpa memberi sehelai kabar dari langit…tanpa memberi tanda adanya petir yang segera menyambar….sepi ini terus menemaninya sendiri dengan tatapan tegak kedepan seperti masih ada mimpi disana…Nyanyi sunyi telah terlintas dikepalanya walau masih menjadi tanya setelah didera berbagai macam penyesalan yang terjadi…nyanyi sunyi makin terasa ketika hidup makin beku dan hati terus tenggelam dalam angan yang telah berlalu…Seharusnya dia tak sendiri…seharusnya sang Dinda duduk mendampingi menanti akan datangnya mimpi dan nyanyi sunyi…tapi dia sendiri lagi…sendiri tanpa harap yang pasti untuk bersama mengarungi lelah penatnya menjalani hidup diiringi nyanyi sunyi…

Advertisements

Read Full Post »

 
  Buku bekas takkan lapuk dalam kehidupan insaniah…    
 
 

<>Hari hampir menjelang petang, tapi pak Harun tetap semangat memaparkan buku tetang Soekarno (Dibawah Bendera Revolusi)…sembari tertawa dengan beberapa kritik dan sindiran bilang dipotret dengan kondisi sekarang, dimana masyarakat seperti lupa bahwa kemerdekaan ini tidak hanya didapat dengan tanda tangan, tapi dengan revolusi dan pertumpahan darah. Inilah sekelumit pak Harun yang telah 15 tahun berdagang buku keliling dengan ditemani anak serta istrinya yang setia mendampinginya.

Keseharian pak Harun memang tak lepas dari ratusan bahkan sudah ribuan buku bekas berpindah dari tangannya, dan uniknya hampir setiap buku bekas paling tidak pak Harun bisa menjelaskan dengan lugas, dan dapat membandingkan dengan buku lain yang setopik. Tak pelak lagi, wawasan pak Harun tentang berbagai macam ilmu, baik Ilmu pasti maupun tidak pasti sangat banyak.

<>Bermodal mobil Suzuki Carry tahun 1987, yang sudah dimodifikasi menjadi mobil khusus barang berpenumpang 2 orang, pak Harun tetap optimis menatap masa depannya dengan berdagang buku bekas keliling, dari pinggiran kampus ke pinggiran kampus yang lain. Bahkan tak jarang orang memesan buku, dan bertemu lagi ditempat biasa mangkal. Tidak banyak keluhan yang disampaikan dengan profesi yang sekarang dijalaninya…hanya ketika hujan tiba-tiba turun, pak Harun musti sigap menutupi semua bukunya dengan plastik lembaran yang seadaanya dan bolong-bolong pula…

Tidak banyak masyarakat kita yang berminat berdagang buku bekas, mungkin dirasa karena margin keuntungan yang kecil. Tapi tidak juga bilang sudah dijalani, walaupun pak Harun selalu memberikan diskon 30% bagi semua buku bekasnya, pak Harun masih tetap eksis melanjutkan hidupnya, bahkan memiliki pegawai yang ikut membantu mengelola pesanan dan penjualan buku bekasnya.

Diusia yang sudah menjelang 50 tahun, pak harun masih bisa menikmati kesehariannya bergelut dengan buku bekasnya yang penuh debu, dan berkejaran dengan debu jalanan. Hidup ini hanya prosesi yang tetap harus dijalani, berharap ridlo dan rahmat Allah SWT. Dengan berdagang buku, berbagai macam teori subyektif tentang sejarah yang sebenarnya milik penguasa yang menang, atau tentang teori-teori normatif sepanjang perjalanan hidup akan menjadi bekal wawasan yang cukup untuk berkomunikasi dengan yang lainnya…

<>Bagaimana dengan kita? Yang masih enggan mengeluarkan “power of entrepreneurship” yang kita miliki untuk bertahan hidup, sehingga cenderung mengeluh dan bahkan akan jauh dari rahmat Illahi. Atau hanya mengkritik keberadaan saat ini yang dirasa makin sulit dengan adanya kebijakan kenaikan BBM, ataukah ikut masuk dalam kesemrawutan system yang ada? Hidup ini makin sulit bila hati serasa gelap dan terbelenggu ambisi tanpa bisa melakukan apa-apa dan menghasilkan keuntungan besar dalam waktu dekat. Manusia terjerembab dalam jurang duniawi karena tak paham atau sengaja menutup mata dan telinga bahwa sebenarnya hidup yang sebenarnya adalah kehidupan setelah kematian….

 
 

Read Full Post »

Malam makin larut kumenyusuri langit-langit kamar yang pengap…

malam semakin larut untuk menapaki jalanan yang semakin gelap…

berbatas keinginan yang tak kan pernah terjadi…selamanya…

Jalan kian berliku menembus semua batas keinginan yang terasa hampa…

Tapi aroma keanggunannya takkan lepas dari pandangan mata hati yang buram oleh segala ego yang melekat…

Seonggok puntung rokok menemani hela nafas panjangku tentangmu…yang tak pernah bisa kumengerti jalan corak pola pikirmu yang mungkin berliku untukku….

Hidup adalah hutan rimba…tahu kemana harus melangkah, tapi tak tahu pada jurang mana aku harus terjatuh…

Kuucapkan selamat jalan pada kawan yang takkan pernah jumpa walau sekejap mataku memandanginya…

Kuucapkan selamat jalan pada kawanku, semoga hari-harimu takkan pernah sesulit hari-hariku yang berlari beriringan dengan maut yang selalu mengintai gerak langkahku…

Kuucapkan selamat jalan pada kawanku, semoga dalam tiap detak jantungmu tetap teriring dzikr pada Allah SWT….

Selamat jalan kawan, kan kuarungi gelombang lautan hidupku yang pasang surut ini tanpamu…

Semoga cerita cintamu akan mencapai batas dimana kau akan mendapatkan tambatan hati pada seseorang yang kau dambakan selama ini…

Yang tak tahu entah dimana, yang tak tahu entah bersama siapa…yang tak tahu kapan datangnya…Semoga hidup ini tidak menjadi sempit bagimu…

 

Bandung – 23.16 – 17 mei 2008

 

Read Full Post »

Kerikil tajam…

Pada Kerikil tajam ini ku berjalan…

Terseok jiwa compang-camping menanti sesuatu….

Terjatuh dan telindas ku mencabik-cabik rerumputan basah dini hari…

Kerikil ini sangat tajam utk dilalui…hati tersayat dan terpendam dalam kegelapan dan tak sanggup ku bergerak menggapai seberkas cahaya…sedangkan putihnya membutakan mata…

kerikil ini sgt tajam utk dipijak..ku tersesat dalam lorong waktu yang sangat gelap..makin tebal rasa karat hati .dan akhirnya rapuh ku terseok diantara jeda waktu ku bernafas…sesal kembali datang dan memeluk erat…

Terngiang aroma nikmat kebatilan yang mengajak kukembali arungi mimpi duniaku…

Sekuat hati ku menepis semua ini…berteriak ku memecahkan jendela hatiku yang telah koyak dan berdarah…

Buat apa?? Untuk apa ku berteriak sedangkan racun ini masih bertengger ditengah-tengah syaraf otakku yang membeku…

Prupuk – 3 mei 08 – 13.55

Read Full Post »

                                           <>Inilah salah satu sudut stasiun ibukota yg menjadi kebahagiaan sebagian orang karena tak ada tempat lain lagi untuk bernaung.Kota ini makin tua dan terbatuk-batuk dengan.bebannya yang semakin berat menanggung semua orang yang berharap keberuntungan disini….Kota ini semakin kering seiring dengan kemerdekaan dng segala kbebasannya….bebas melanggar lalu lintas, ,bebas corat-coret, bebas buang sampah,sampai dengan bebas korupsi.Mungkin Cuma satu yang tidak bebas adalah tidak bebas telanjang di taman kota.

Ada apa dengan penghuni kota ini? Apakah mungkin hidup sudah semakin sulit sehingga yang namanya disiplin akan menjadi beban bagi otak mereka.. Wajar juga sih…Bagaimana mau disiplin kalo mencari kerja saja sulit,buat apa bersih kalo perut aja lapar…besar dari dari kita masih menjunjung tinggi faktor ekonomi diatas segala-galanya. Walo masih tersisa orang-orang yg really dan benar-benar ikhlas menghadapi segala sesuatu dengan lapang dada.Tapi inipun sulit menjadi patokan…karena kedok agama dan ikhlas sudah menjadi pakaian sehari-hari demi kepentingan seputar perutnya. Sakitkah sistem negara ini? Ato rahmat telah dicabut?

Berbusa-busa orang bicara tentang konsep dan hasilnya pun tampak berbusa..permasalahan makin kompleks ketika konsistensi terusik oleh kepentingan.baik kelompok maupun pribadi…tp apa yang bisa kita lakukan? Utk mengurus diri sendiri msh sulit, dan berteman beribu kata-kata normatif yang menjadi makanan seharia-hari dan tak mudah menelan itu semua kedalam otak kanan kita dan menjadikannya sebagai tanda yang harus diikuti.

Hari makin siang dan sebagian kita tak tau hrs berbuat apa.yg terlintas hanya besok makan apa,dan kerja apa,dan semua yang masih berputar pada perut.penat kepala ini serasa menamparku,sedang alam kubur masih menyisakan pertanyaan pada kita..

ku palingkan pandanganku menengok pada gadis manis lugu melamun.dibalik jendela.seperti tak ada beban pd matanya.hanya rindu pd kekasih mgk yg dibygkannya..ato hny rindu pd org tuanya.serasa gadis ini adl manusia yg plg berbhgia.tanpa beban,tanpa mslh hdp yg mendera,menyeret hati hingga compangcamping dibuatnya..

cirebon-3mei08-12.37

Read Full Post »

Kasih Sayang Dan Persamaan

Sahabatku yang papa, jika engkau mengetahui, bahwa Kemiskinan yang membuatmu sengsara itu mampu menjelaskan pengetahuan tentang Keadilan dan pengertian tentang Kehidupan, maka engkau pasti berpuas hati dengan nasibmu.

Kusebut pengetahuan tentang Keadilan : Kerana orang kaya terlalu sibuk mengumpul harta utk mencari pengetahuan. Dan kusebut pengertian tentang Kehidupan : Kerana orang yang kuat terlalu berhasrat mengejar kekuatan dan keagungan bagi menempuh jalan kebenaran.

Bergembiralah, sahabatku yang papa, kerana engkau merupakan penyambung lidah Keadilan dan Kitab tentang Kehidupan. Tenanglah, kerana engkau merupakan sumber kebajikan bagi mereka yang memerintah terhadapmu, dan tiang kejujuran bagi mereka yang membimbingmu.

Jika engkau menyedari, sahabatku yang papa, bahawa malang yang menimpamu dalam hidup merupakan kekuatan yang menerangi hatimu, dan membangkitkan jiwamu dari ceruk ejekan ke singgahsana kehormatan, maka engkau akan merasa berpuas hati kerana pengalamanmu, dan engkau akan memandangnya sebagai pembimbing, serta membuatmu bijaksana.

Kehidupan ialah suatu rantai yang tersusun oleh banyak mata rantai yang berlainan. Duka merupakan salah satu mata rantai emas antara penyerahan terhadap masa kini dan harapan masa depan. Antara tidur dan jaga, di luar fajar merekah.

Sahabatku yang papa, Kemiskinan menyalakan api keagungan jiwa, sedangkan kemewahan memperlihatkan keburukannya. Duka melembutkan perasaan, dan Suka mengubati hati yang luka. Bila Duka dan kemelaratan dihilangkan, jiwa manusia akan menjadi batu tulis yang kosong, hanya memperlihatkan kemewahan dan kerakusan.

Ingatlah, bahawa keimanan itu adalah peribadi sejati Manusia. Tidak dapat ditukar dengan emas; tidak dapat dikumpul seperti harta kekayaan. Mereka yang mewah sering meminggirkan keimananan, dan mendakap erat emasnya.

Orang muda sekarang jangan sampai meninggalkan Keimananmu, dan hanya mengejar kepuasan diri dan kesenangan semata. Orang-orang papa yang kusayangi, saat bersama isteri dan anak sekembalinya dari ladang merupakan waktu yang paling mesra bagi keluarga, sebagai lambang kebahagiaan bagi takdir angkatan yang akan datang. Tapi hidup orang yang senang bermewah-mewahan dan mengumpul emas, pada hakikatnya seperti hidup cacing di dalam kuburan. Itu menandakan ketakutan.

Air mata yang kutangiskan, wahai sahabatku yang papa, lebih murni daripada tawa ria orang yang ingin melupakannya, dan lebih manis daripada ejekan seorang pencemuh. Air mata ini membersihkan hati dan kuman benci, dan mengajar manusia ikut merasakan pedihnya hati yang patah.

Benih yang kautaburkan bagi si kaya, dan akan kau tuai nanti, akan kembali pada sumbernya, sesuai dengan Hukum Alam. Dan dukacita yang kausandang, akan dikembalikan menjadi sukacita oleh kehendak Syurga. Dan angkatan mendatang akan mempelajari Dukacita dan Kemelaratan sebagai pelajaran tentang Kasih Sayang dan Persamaan.

~ Kahlil Gibran ~(Dari ‘Suara Sang Guru’)

Ciuman Pertama

Itulah tegukan pertama dari cawan yang telah diisi oleh para dewa dari air pancuran cinta.

Itulah batas antara kebimbangan yang menghiburkan dan menyedihkan hati dengan takdir yang mengisinya dengan kebahagiaan.

Itulah baris pembuka dari suatu puisi kehidupan , bab pertama dari suatu novel tentang manusia.

Itulah tali yang menghubungkan pengasingan masa lalu dengan kejayaan masa depan.

Ciuman pertama menyatukan keheningan perasaan-perasaan dengan nyanyian- nyanyiannya.

Itulah satu kata yang diucapkan oleh sepasang bibir yang menyatukan hati sebagai

singgahsana, cinta sebagai raja, kesetiaan sebagai mahkota.

Itulah sentuhan lembut yang mengungkapkan bagaimana jari-jemari angin mencumbui mulut bunga mawar, mempesonakan desah nafas kenikmatan panjang dan rintihan manis nan lirih.

Itulah permulaan getaran-getaran yang memisahkan kekasih dari dunia ruang dan matra dan membawa mereka kepada ilham dan impian-impian.

Ia memadukan taman bunga berbentuk bintang-bintang dengan bunga buah delima, menyatukan dua aroma untuk melahirkan jiwa ketiga.

Jika pandangan pertama adalah seperti benih yang ditaburkan para dewa di ladang hati manusia, maka ciuman pertama mengungkapkan bunga pertama yang mekar pada ranting pohon cabang pertama kehidupan.

~ Kahlil Gibran ~

Nasihat Jiwaku

Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar

mencintai semua orang yang membenciku,

Dan berteman dengan mereka yang memfitnahku.

Jiwaku menasihatiku dan mengungkapkan kepadaku

bahawa cinta tidak hanya menghargai orang yang mencintai,

tetapi juga orang yang dicintai.

Sejak saat itu bagiku cinta ibarat jaring lelabah di antara dua bunga, dekat satu sama lain;

Tapi kini dia menjadi suatu lingkaran cahaya di sekeliling matahari yang tiada berawal pun tiada berakhir, Melingkari semua yang ada, dan bertambah secara kekal.

Jiwaku menasihatiku dan mengajarku agar melihat kecantikan yang ada di

sebalik bentuk dan warna.

Jiwaku memintaku untuk menatap semua yang buruk dengan tabah sampai nampaklah keelokannya.

Sesungguhnya sebelum jiwaku meminta dan menasihatiku,

Aku melihat keindahan seperti titik api yang tergulung asap;

tapi sekarang asap itu telah tersebar dan menghilang, dan aku hanya melihat api yang membakar.

Jiwaku menasihatiku dan memintaku untuk mendengar suara yang keluar bukan dari lidah maupun dari tenggorokan.

Sebelumnya aku hanya mendengar teriakan dan jeritan di telingaku yang bodoh dan sia-sia.

Tapi sekarang aku belajar mendengar keheningan,

Yang bergema dan melantunkan lagu dari zaman ke zaman.

Menyanyikan nada langit, dan menyingkap tabir rahsia keabadiaan..

Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar memuaskan kehausanku dengan meminum anggur yang tak dituangkan ke dalam cangkir-cangkir,

Yang belum terangkat oleh tangan, dan tak tersentuh oleh bibir

Hingga hari itu kehausanku seperti nyala redup yang terkubur dalam abu.

Tertiup angin dingin dari musim-musim bunga;

Tapi sekarang kerinduan menjadi cangkirku,

Cinta menjadi anggurku, dan kesendirian adalah kebahagianku.

Jiwaku menasihatiku dan memintaku mencari yang tak dapat dilihat;

Dan jiwaku menyingkapkan kepadaku bahwa apa yang kita sentuh adalah apa yang kita impikan.

Jiwaku mengatakan padaku dan mengundangku untuk menghirup harum tumbuhan

yang tak memiliki akar, tangkai maupun bunga, dan yang tak pernah dapat dilihat mata.

Sebelum jiwaku menasihati, aku mencari bau harum dalam kebun-kebun,

Dalam botol minyak wangi tumbuhan-tumbuhan dan bejana dupa; Tapi sekarang aku menyedari hanya pada dupa yang tak dibakar,

Aku mencium udara lebih harum dari semua kebun-kebun di dunia ini dan semua angin di angkasa raya.

Jiwaku menasihatiku dan memintaku agar tidak merasa mulia

kerana pujian.

Dan agar tidak disusahkan oleh ketakutan kerana cacian.

Sampai hari ini aku berasa ragu akan nilai pekerjaanku;

Tapi sekarang aku belajar;

Bahawa pohon berbunga di musim bunga, dan berbuah di musim panas

Dan menggugurkan daun-daunnya di musim gugur untuk menjadi benar-benar telanjang di musim dingin.

Tanpa merasa mulia dan tanpa ketakutan atau tanpa rasa malu.

Jiwaku menasihatiku dan meyakinkanku

Bahawa aku tak lebih tinggi berbanding cebol ataupun tak lebih rendah

berbanding raksasa.

Sebelumnya aku melihat manusia ada dua,

Seorang yang lemah yang aku caci atau kukasihani,

Dan seorang yang kuat yang kuikuti, maupun yang kulawan

dalam pemberontakan.

Tapi sekarang aku tahu bahwa aku bahkan dibentuk oleh tanah

yang sama darimana semua manusia diciptakan.

Bahwa unsur-unsurku adalah unsur-unsur mereka, dan pengembaraan mereka adalah juga milikku.

Bila mereka melanggar aku juga pelanggar,

Dan bila mereka berbuat baik, maka aku juga bersama perbuatan baik mereka.

Bila mereka bangkit, aku juga bangkit bersama mereka;

Bila mereka tinggal di belakang, aku juga menemani mereka.

Jiwaku menasihatiku dan memerintahku untuk melihat bahawa cahaya yang kubawa bukanlah cahayaku,

Bahawa laguku tidak diciptakan dalam diriku;

Kerana meski aku berjalan dengan cahaya, aku bukanlah cahaya,

Dan meskipun aku bermain kecapi yang diikat kemas oleh dawai-dawaiku,

Aku bukanlah pemain kecapi.

Jiwaku menasihatiku dan mengingatkanku untuk mengukur waktu dengan perkataan ini: “Di sana ada hari semalam dan di sana ada hari esok.” Pada saat itu aku menganggap masa lampau sebuah zaman yang lenyap dan akan dilupakan, Dan masa depan kuanggap suatu masa yang tak bisa kucapai;

Tapi kini aku terdidik perkara ini : Bahawa dalam keseluruhan waktu masa kini yang singkat,

serta semua yang ada dalam waktu, Harus diraih sampai dapat.

Jiwaku menasihatiku, saudaraku, dan menerangiku.

Dan seringkali jiwamu menasihati dan menerangimu.

Kerana engkau seperti diriku, dan tak ada beza di antara kita.

Kusimpan apa yang kukatakan dalam diriku ini dalam kata-kata yang kudengar dalam heningku,

Dan engkau jagalah apa yang ada di dalam dirimu, dan engkau adalah penjaga yang sama baiknya seperti yang kukatakan ini.

~ Kahlil Gibran ~

Kehidupan

Engkau dibisiki bahwa hidup adalah kegelapan

Dan dengan penuh ketakutan

Engkau sebarkan apa yang telah dituturkan padamu

penuh kebimbangan

Kuwartakan padamu bahawa hidup

adalah kegelapan

jika tidak diselimuti oleh kehendak

Dan segala kehendak akan buta bila tidak diselimuti pengetahuan

Dan segala macam pengetahuan akan kosong

bila tidak diiringi kerja

Dan segala kerja hanyalah kehampaan

kecuali disertai cinta

Maka bila engkau bekerja dengan cinta

Engkau sesungguhnya tengah

menambatkan dirimu

Dengan wujudnya kamu, wujud manusia lain

Dan wujud Tuhan.

~ Kahlil Gibran ~

Read Full Post »

Bila cinta memanggilmu, turutilah bersamanya

Kendati jalan yang mesti engkau sangat keras dan terjal

Ketika sayap-sayapnya merangkulmu, maka berserah dirilah padanya

Sekalipun pedang-pedang yang bersemayam di balik sayap-sayap itu barangkali akan melukaimu

(more…)

Read Full Post »

Older Posts »