Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘puisi’

Kuberikan kau sedikit nasehat nak…

Pandanglah nisan bapak ini…hanya terdiam…

Pandanglah rentang waktu ketika bapak hidup…tak seberapa lama…

Pandanglah langit muram diujung sana….

Lihatlah nisan disekeliling nisan ini…

Lihatlah rumput-rumput disekitarnya…

Lihatlah orang-orang disekelilingmu….yang sibuk hingga lupa sesuatu yang pasti akan menjemputmu…

Ingatlah nak…semua yang kau sibukkan didunia tak kan lama…

Ingatlah nak…permasalahan setelah ini jauh lebih berat dibanding masalahmu kini yang masih didunia…

Ingatlah nak…tujuan hidupmu hanya mencari bekal di kehidupan setelah mati….

Ingatlah nak, nasehat ini bukan cerita ilusi seperti yang kau kira….

Ingatlah nak yang dianggap tak nyata didunia akan menjadi sesuatu yang nyata…jangan kau lengah atau lupa….

Peluklah Ramadhan sebagai bagian dari perjalanan mengumpulkan bekal untuk perjalanan panjang….

Bukalah matamu di malam-malam bulan Ramadhan agar kau dapat merasakan nikmatnya mata terpejam ketika kau telah berpulang….

Advertisements

Read Full Post »

=======================================

Sendiri termenung dalam kesenyapan senja, menatap kosong lurus ke depan…Dalam kesendirian sepi mendekap erat berteman malam dan seutas penyesalan yang tak segera pergi…Dia sendiri terpekur tegak dalam kepatuhan dan kepenatan memendam harap dan bara yang sama-sama menyala…Tak tahu apa yang dinanti kecuali nyanyi sunyi yang kan datang tanpa memberi sehelai kabar dari langit…tanpa memberi tanda adanya petir yang segera menyambar….sepi ini terus menemaninya sendiri dengan tatapan tegak kedepan seperti masih ada mimpi disana…Nyanyi sunyi telah terlintas dikepalanya walau masih menjadi tanya setelah didera berbagai macam penyesalan yang terjadi…nyanyi sunyi makin terasa ketika hidup makin beku dan hati terus tenggelam dalam angan yang telah berlalu…Seharusnya dia tak sendiri…seharusnya sang Dinda duduk mendampingi menanti akan datangnya mimpi dan nyanyi sunyi…tapi dia sendiri lagi…sendiri tanpa harap yang pasti untuk bersama mengarungi lelah penatnya menjalani hidup diiringi nyanyi sunyi…

Read Full Post »

 
  Buku bekas takkan lapuk dalam kehidupan insaniah…    
 
 

<>Hari hampir menjelang petang, tapi pak Harun tetap semangat memaparkan buku tetang Soekarno (Dibawah Bendera Revolusi)…sembari tertawa dengan beberapa kritik dan sindiran bilang dipotret dengan kondisi sekarang, dimana masyarakat seperti lupa bahwa kemerdekaan ini tidak hanya didapat dengan tanda tangan, tapi dengan revolusi dan pertumpahan darah. Inilah sekelumit pak Harun yang telah 15 tahun berdagang buku keliling dengan ditemani anak serta istrinya yang setia mendampinginya.

Keseharian pak Harun memang tak lepas dari ratusan bahkan sudah ribuan buku bekas berpindah dari tangannya, dan uniknya hampir setiap buku bekas paling tidak pak Harun bisa menjelaskan dengan lugas, dan dapat membandingkan dengan buku lain yang setopik. Tak pelak lagi, wawasan pak Harun tentang berbagai macam ilmu, baik Ilmu pasti maupun tidak pasti sangat banyak.

<>Bermodal mobil Suzuki Carry tahun 1987, yang sudah dimodifikasi menjadi mobil khusus barang berpenumpang 2 orang, pak Harun tetap optimis menatap masa depannya dengan berdagang buku bekas keliling, dari pinggiran kampus ke pinggiran kampus yang lain. Bahkan tak jarang orang memesan buku, dan bertemu lagi ditempat biasa mangkal. Tidak banyak keluhan yang disampaikan dengan profesi yang sekarang dijalaninya…hanya ketika hujan tiba-tiba turun, pak Harun musti sigap menutupi semua bukunya dengan plastik lembaran yang seadaanya dan bolong-bolong pula…

Tidak banyak masyarakat kita yang berminat berdagang buku bekas, mungkin dirasa karena margin keuntungan yang kecil. Tapi tidak juga bilang sudah dijalani, walaupun pak Harun selalu memberikan diskon 30% bagi semua buku bekasnya, pak Harun masih tetap eksis melanjutkan hidupnya, bahkan memiliki pegawai yang ikut membantu mengelola pesanan dan penjualan buku bekasnya.

Diusia yang sudah menjelang 50 tahun, pak harun masih bisa menikmati kesehariannya bergelut dengan buku bekasnya yang penuh debu, dan berkejaran dengan debu jalanan. Hidup ini hanya prosesi yang tetap harus dijalani, berharap ridlo dan rahmat Allah SWT. Dengan berdagang buku, berbagai macam teori subyektif tentang sejarah yang sebenarnya milik penguasa yang menang, atau tentang teori-teori normatif sepanjang perjalanan hidup akan menjadi bekal wawasan yang cukup untuk berkomunikasi dengan yang lainnya…

<>Bagaimana dengan kita? Yang masih enggan mengeluarkan “power of entrepreneurship” yang kita miliki untuk bertahan hidup, sehingga cenderung mengeluh dan bahkan akan jauh dari rahmat Illahi. Atau hanya mengkritik keberadaan saat ini yang dirasa makin sulit dengan adanya kebijakan kenaikan BBM, ataukah ikut masuk dalam kesemrawutan system yang ada? Hidup ini makin sulit bila hati serasa gelap dan terbelenggu ambisi tanpa bisa melakukan apa-apa dan menghasilkan keuntungan besar dalam waktu dekat. Manusia terjerembab dalam jurang duniawi karena tak paham atau sengaja menutup mata dan telinga bahwa sebenarnya hidup yang sebenarnya adalah kehidupan setelah kematian….

 
 

Read Full Post »

Malam makin larut kumenyusuri langit-langit kamar yang pengap…

malam semakin larut untuk menapaki jalanan yang semakin gelap…

berbatas keinginan yang tak kan pernah terjadi…selamanya…

Jalan kian berliku menembus semua batas keinginan yang terasa hampa…

Tapi aroma keanggunannya takkan lepas dari pandangan mata hati yang buram oleh segala ego yang melekat…

Seonggok puntung rokok menemani hela nafas panjangku tentangmu…yang tak pernah bisa kumengerti jalan corak pola pikirmu yang mungkin berliku untukku….

Hidup adalah hutan rimba…tahu kemana harus melangkah, tapi tak tahu pada jurang mana aku harus terjatuh…

Kuucapkan selamat jalan pada kawan yang takkan pernah jumpa walau sekejap mataku memandanginya…

Kuucapkan selamat jalan pada kawanku, semoga hari-harimu takkan pernah sesulit hari-hariku yang berlari beriringan dengan maut yang selalu mengintai gerak langkahku…

Kuucapkan selamat jalan pada kawanku, semoga dalam tiap detak jantungmu tetap teriring dzikr pada Allah SWT….

Selamat jalan kawan, kan kuarungi gelombang lautan hidupku yang pasang surut ini tanpamu…

Semoga cerita cintamu akan mencapai batas dimana kau akan mendapatkan tambatan hati pada seseorang yang kau dambakan selama ini…

Yang tak tahu entah dimana, yang tak tahu entah bersama siapa…yang tak tahu kapan datangnya…Semoga hidup ini tidak menjadi sempit bagimu…

 

Bandung – 23.16 – 17 mei 2008

 

Read Full Post »

Kumelongok pada rumah kecil disuatu persawahan….kumelihat seorang bapak tua bersanding pada sepeda tua dan sedikit kantong lusuh dibelakangnya, bapak tua menatap kereta yang melintas dengan penuh harap…ku tengok pada rautku sendiri…apa yang dapat diharapkan pada hati yang berjendela retak,pada mata yang telah sayu, pada angan yang mengering, compang camping berbelit masalah tentang hidup…

Lusuh aku menyusuri tiap besi-besi berkarat ini..tersedak ku menatap suatu keluarga yang riang bermain…aku merasa sepi sndiri…

Tak lekang ku merintih tertimpa sebongkah batu kapur yg memanas…

Letih rasa ku berjalan…

Tiap terlintas pekuburan ditengah sawah, kembali ku tesedak menatap beku…tampak teduh…tp menyeramkan…tak kuasa ku menatap kapan ku khan kembali..

Kutoarjo 5 mei 2008

Read Full Post »

Ketika matahari belum surut ke peraduan, Mak Ipah masih sibuk melayani pembeli yang mampir di “kedai nomaden”-nya. Kenapa nomaden? “Karena sewaktu-waktu petugas trantib dating dan tanpa nego lagi langsung saja angkut ini gerobak mie, dan semua perangkat yang ada. Berat mempertahankan hidup dan berharap pada kearifan penguasa jalanan setempat hanya untuk berdagang kecil-kecilan.

Mungkin ini satu dari ribuan bahkan jutaan pedagang yang notabene juga seorang ibu yang tugasnya tidak hanya diluar, tapi juga dirumah membesarkan anak-anak. Sosok yang mustinya kita lihat sebagai teladan karena dia mau juga sebagai tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah…

Inikah scenario hidup yang dia mau? Ini kah yang dulu di cita-citakan? Tidak ada seorangpun berharap punya dagangan kecil-kecilan. Kalo boleh berucap, semua akan berharap menjadi konglomerat kaya, dengan agenda pesta makan malam di Ritz Calton, atau tempat mewah lainnya… Tapi bukan itu sebenarnya tujuan hidup…

Ini hanya penggalan cerita yang harusnya membuat diri kita, dan keluarga kita bersyukur atas apa yang didapat saat ini. Don’t look up your head…tapi lihatlah kebawah…agar rasa syukur masih terbersit dalam benak yang sudah kotor dan gelap oleh gemerlap kota…

Mak Ipah hampir tiap hari berdagang disini, dan berkucing-kucingan dengan jadwal ronda para petugas trantib. Hanya untuk Rp 3.000,- / mangkok, Mak Ipah berjuang melawan polusi yang merongrong paru-parunya setiap hari. Kemana suaminya? Tak perlu ada jawaban, karena yang menjawab adalah suara derit gerobak yang didorong pulang ke rumah..

Sepenggal fenomena yang patut kita renungi, diantara gemerlap dan gelak tawa yang ada disekeliling kita…penggalan fakta yang harusnya tidak membuat orang menjadi buta dan selalu merasa kurang dengan apa yang didapat. Peluh keringat yang ada tidak hanya milik Mak Ipah, tapi juga milik ribuan bahkan jutaan pedagang kecil yang meraup rejeki dipinggiran jalan, berharap orang untuk singgah sebentar mencicipi dan melegakan lapar perutnya…

Perjalanan masih terasa melelahkan tanpa keikhlasan dan dorongan batin yang kuat untuk bertahan hidup, apalagi dikota besar, dan dijaman sekarang yang semua serba hedon, serba metropolis, serba ego, dan serba neo. Mak Ipah adalah satu dari potret pelajaran yang dapat menjadi teladan bagi hidup dan kehidupan, bagaimana bertahan hidup untuk tetap hidup, bagaimana memanfaatkan dan mensyukuri segala rahmat Allh SWT…

Bandung – 12 Mei 2008 – 16.35

Read Full Post »

Kerikil tajam…

Pada Kerikil tajam ini ku berjalan…

Terseok jiwa compang-camping menanti sesuatu….

Terjatuh dan telindas ku mencabik-cabik rerumputan basah dini hari…

Kerikil ini sangat tajam utk dilalui…hati tersayat dan terpendam dalam kegelapan dan tak sanggup ku bergerak menggapai seberkas cahaya…sedangkan putihnya membutakan mata…

kerikil ini sgt tajam utk dipijak..ku tersesat dalam lorong waktu yang sangat gelap..makin tebal rasa karat hati .dan akhirnya rapuh ku terseok diantara jeda waktu ku bernafas…sesal kembali datang dan memeluk erat…

Terngiang aroma nikmat kebatilan yang mengajak kukembali arungi mimpi duniaku…

Sekuat hati ku menepis semua ini…berteriak ku memecahkan jendela hatiku yang telah koyak dan berdarah…

Buat apa?? Untuk apa ku berteriak sedangkan racun ini masih bertengger ditengah-tengah syaraf otakku yang membeku…

Prupuk – 3 mei 08 – 13.55

Read Full Post »

Older Posts »