Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘puisi’

Kuberikan kau sedikit nasehat nak…

Pandanglah nisan bapak ini…hanya terdiam…

Pandanglah rentang waktu ketika bapak hidup…tak seberapa lama…

Pandanglah langit muram diujung sana….

Lihatlah nisan disekeliling nisan ini…

Lihatlah rumput-rumput disekitarnya…

Lihatlah orang-orang disekelilingmu….yang sibuk hingga lupa sesuatu yang pasti akan menjemputmu…

Ingatlah nak…semua yang kau sibukkan didunia tak kan lama…

Ingatlah nak…permasalahan setelah ini jauh lebih berat dibanding masalahmu kini yang masih didunia…

Ingatlah nak…tujuan hidupmu hanya mencari bekal di kehidupan setelah mati….

Ingatlah nak, nasehat ini bukan cerita ilusi seperti yang kau kira….

Ingatlah nak yang dianggap tak nyata didunia akan menjadi sesuatu yang nyata…jangan kau lengah atau lupa….

Peluklah Ramadhan sebagai bagian dari perjalanan mengumpulkan bekal untuk perjalanan panjang….

Bukalah matamu di malam-malam bulan Ramadhan agar kau dapat merasakan nikmatnya mata terpejam ketika kau telah berpulang….

Read Full Post »

=======================================

Sendiri termenung dalam kesenyapan senja, menatap kosong lurus ke depan…Dalam kesendirian sepi mendekap erat berteman malam dan seutas penyesalan yang tak segera pergi…Dia sendiri terpekur tegak dalam kepatuhan dan kepenatan memendam harap dan bara yang sama-sama menyala…Tak tahu apa yang dinanti kecuali nyanyi sunyi yang kan datang tanpa memberi sehelai kabar dari langit…tanpa memberi tanda adanya petir yang segera menyambar….sepi ini terus menemaninya sendiri dengan tatapan tegak kedepan seperti masih ada mimpi disana…Nyanyi sunyi telah terlintas dikepalanya walau masih menjadi tanya setelah didera berbagai macam penyesalan yang terjadi…nyanyi sunyi makin terasa ketika hidup makin beku dan hati terus tenggelam dalam angan yang telah berlalu…Seharusnya dia tak sendiri…seharusnya sang Dinda duduk mendampingi menanti akan datangnya mimpi dan nyanyi sunyi…tapi dia sendiri lagi…sendiri tanpa harap yang pasti untuk bersama mengarungi lelah penatnya menjalani hidup diiringi nyanyi sunyi…

Read Full Post »

 
  Buku bekas takkan lapuk dalam kehidupan insaniah…    
 
 

<>Hari hampir menjelang petang, tapi pak Harun tetap semangat memaparkan buku tetang Soekarno (Dibawah Bendera Revolusi)…sembari tertawa dengan beberapa kritik dan sindiran bilang dipotret dengan kondisi sekarang, dimana masyarakat seperti lupa bahwa kemerdekaan ini tidak hanya didapat dengan tanda tangan, tapi dengan revolusi dan pertumpahan darah. Inilah sekelumit pak Harun yang telah 15 tahun berdagang buku keliling dengan ditemani anak serta istrinya yang setia mendampinginya.

Keseharian pak Harun memang tak lepas dari ratusan bahkan sudah ribuan buku bekas berpindah dari tangannya, dan uniknya hampir setiap buku bekas paling tidak pak Harun bisa menjelaskan dengan lugas, dan dapat membandingkan dengan buku lain yang setopik. Tak pelak lagi, wawasan pak Harun tentang berbagai macam ilmu, baik Ilmu pasti maupun tidak pasti sangat banyak.

<>Bermodal mobil Suzuki Carry tahun 1987, yang sudah dimodifikasi menjadi mobil khusus barang berpenumpang 2 orang, pak Harun tetap optimis menatap masa depannya dengan berdagang buku bekas keliling, dari pinggiran kampus ke pinggiran kampus yang lain. Bahkan tak jarang orang memesan buku, dan bertemu lagi ditempat biasa mangkal. Tidak banyak keluhan yang disampaikan dengan profesi yang sekarang dijalaninya…hanya ketika hujan tiba-tiba turun, pak Harun musti sigap menutupi semua bukunya dengan plastik lembaran yang seadaanya dan bolong-bolong pula…

Tidak banyak masyarakat kita yang berminat berdagang buku bekas, mungkin dirasa karena margin keuntungan yang kecil. Tapi tidak juga bilang sudah dijalani, walaupun pak Harun selalu memberikan diskon 30% bagi semua buku bekasnya, pak Harun masih tetap eksis melanjutkan hidupnya, bahkan memiliki pegawai yang ikut membantu mengelola pesanan dan penjualan buku bekasnya.

Diusia yang sudah menjelang 50 tahun, pak harun masih bisa menikmati kesehariannya bergelut dengan buku bekasnya yang penuh debu, dan berkejaran dengan debu jalanan. Hidup ini hanya prosesi yang tetap harus dijalani, berharap ridlo dan rahmat Allah SWT. Dengan berdagang buku, berbagai macam teori subyektif tentang sejarah yang sebenarnya milik penguasa yang menang, atau tentang teori-teori normatif sepanjang perjalanan hidup akan menjadi bekal wawasan yang cukup untuk berkomunikasi dengan yang lainnya…

<>Bagaimana dengan kita? Yang masih enggan mengeluarkan “power of entrepreneurship” yang kita miliki untuk bertahan hidup, sehingga cenderung mengeluh dan bahkan akan jauh dari rahmat Illahi. Atau hanya mengkritik keberadaan saat ini yang dirasa makin sulit dengan adanya kebijakan kenaikan BBM, ataukah ikut masuk dalam kesemrawutan system yang ada? Hidup ini makin sulit bila hati serasa gelap dan terbelenggu ambisi tanpa bisa melakukan apa-apa dan menghasilkan keuntungan besar dalam waktu dekat. Manusia terjerembab dalam jurang duniawi karena tak paham atau sengaja menutup mata dan telinga bahwa sebenarnya hidup yang sebenarnya adalah kehidupan setelah kematian….

 
 

Read Full Post »

Malam makin larut kumenyusuri langit-langit kamar yang pengap…

malam semakin larut untuk menapaki jalanan yang semakin gelap…

berbatas keinginan yang tak kan pernah terjadi…selamanya…

Jalan kian berliku menembus semua batas keinginan yang terasa hampa…

Tapi aroma keanggunannya takkan lepas dari pandangan mata hati yang buram oleh segala ego yang melekat…

Seonggok puntung rokok menemani hela nafas panjangku tentangmu…yang tak pernah bisa kumengerti jalan corak pola pikirmu yang mungkin berliku untukku….

Hidup adalah hutan rimba…tahu kemana harus melangkah, tapi tak tahu pada jurang mana aku harus terjatuh…

Kuucapkan selamat jalan pada kawan yang takkan pernah jumpa walau sekejap mataku memandanginya…

Kuucapkan selamat jalan pada kawanku, semoga hari-harimu takkan pernah sesulit hari-hariku yang berlari beriringan dengan maut yang selalu mengintai gerak langkahku…

Kuucapkan selamat jalan pada kawanku, semoga dalam tiap detak jantungmu tetap teriring dzikr pada Allah SWT….

Selamat jalan kawan, kan kuarungi gelombang lautan hidupku yang pasang surut ini tanpamu…

Semoga cerita cintamu akan mencapai batas dimana kau akan mendapatkan tambatan hati pada seseorang yang kau dambakan selama ini…

Yang tak tahu entah dimana, yang tak tahu entah bersama siapa…yang tak tahu kapan datangnya…Semoga hidup ini tidak menjadi sempit bagimu…

 

Bandung – 23.16 – 17 mei 2008

 

Read Full Post »

Kumelongok pada rumah kecil disuatu persawahan….kumelihat seorang bapak tua bersanding pada sepeda tua dan sedikit kantong lusuh dibelakangnya, bapak tua menatap kereta yang melintas dengan penuh harap…ku tengok pada rautku sendiri…apa yang dapat diharapkan pada hati yang berjendela retak,pada mata yang telah sayu, pada angan yang mengering, compang camping berbelit masalah tentang hidup…

Lusuh aku menyusuri tiap besi-besi berkarat ini..tersedak ku menatap suatu keluarga yang riang bermain…aku merasa sepi sndiri…

Tak lekang ku merintih tertimpa sebongkah batu kapur yg memanas…

Letih rasa ku berjalan…

Tiap terlintas pekuburan ditengah sawah, kembali ku tesedak menatap beku…tampak teduh…tp menyeramkan…tak kuasa ku menatap kapan ku khan kembali..

Kutoarjo 5 mei 2008

Read Full Post »

Ketika matahari belum surut ke peraduan, Mak Ipah masih sibuk melayani pembeli yang mampir di “kedai nomaden”-nya. Kenapa nomaden? “Karena sewaktu-waktu petugas trantib dating dan tanpa nego lagi langsung saja angkut ini gerobak mie, dan semua perangkat yang ada. Berat mempertahankan hidup dan berharap pada kearifan penguasa jalanan setempat hanya untuk berdagang kecil-kecilan.

Mungkin ini satu dari ribuan bahkan jutaan pedagang yang notabene juga seorang ibu yang tugasnya tidak hanya diluar, tapi juga dirumah membesarkan anak-anak. Sosok yang mustinya kita lihat sebagai teladan karena dia mau juga sebagai tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah…

Inikah scenario hidup yang dia mau? Ini kah yang dulu di cita-citakan? Tidak ada seorangpun berharap punya dagangan kecil-kecilan. Kalo boleh berucap, semua akan berharap menjadi konglomerat kaya, dengan agenda pesta makan malam di Ritz Calton, atau tempat mewah lainnya… Tapi bukan itu sebenarnya tujuan hidup…

Ini hanya penggalan cerita yang harusnya membuat diri kita, dan keluarga kita bersyukur atas apa yang didapat saat ini. Don’t look up your head…tapi lihatlah kebawah…agar rasa syukur masih terbersit dalam benak yang sudah kotor dan gelap oleh gemerlap kota…

Mak Ipah hampir tiap hari berdagang disini, dan berkucing-kucingan dengan jadwal ronda para petugas trantib. Hanya untuk Rp 3.000,- / mangkok, Mak Ipah berjuang melawan polusi yang merongrong paru-parunya setiap hari. Kemana suaminya? Tak perlu ada jawaban, karena yang menjawab adalah suara derit gerobak yang didorong pulang ke rumah..

Sepenggal fenomena yang patut kita renungi, diantara gemerlap dan gelak tawa yang ada disekeliling kita…penggalan fakta yang harusnya tidak membuat orang menjadi buta dan selalu merasa kurang dengan apa yang didapat. Peluh keringat yang ada tidak hanya milik Mak Ipah, tapi juga milik ribuan bahkan jutaan pedagang kecil yang meraup rejeki dipinggiran jalan, berharap orang untuk singgah sebentar mencicipi dan melegakan lapar perutnya…

Perjalanan masih terasa melelahkan tanpa keikhlasan dan dorongan batin yang kuat untuk bertahan hidup, apalagi dikota besar, dan dijaman sekarang yang semua serba hedon, serba metropolis, serba ego, dan serba neo. Mak Ipah adalah satu dari potret pelajaran yang dapat menjadi teladan bagi hidup dan kehidupan, bagaimana bertahan hidup untuk tetap hidup, bagaimana memanfaatkan dan mensyukuri segala rahmat Allh SWT…

Bandung – 12 Mei 2008 – 16.35

Read Full Post »

Kerikil tajam…

Pada Kerikil tajam ini ku berjalan…

Terseok jiwa compang-camping menanti sesuatu….

Terjatuh dan telindas ku mencabik-cabik rerumputan basah dini hari…

Kerikil ini sangat tajam utk dilalui…hati tersayat dan terpendam dalam kegelapan dan tak sanggup ku bergerak menggapai seberkas cahaya…sedangkan putihnya membutakan mata…

kerikil ini sgt tajam utk dipijak..ku tersesat dalam lorong waktu yang sangat gelap..makin tebal rasa karat hati .dan akhirnya rapuh ku terseok diantara jeda waktu ku bernafas…sesal kembali datang dan memeluk erat…

Terngiang aroma nikmat kebatilan yang mengajak kukembali arungi mimpi duniaku…

Sekuat hati ku menepis semua ini…berteriak ku memecahkan jendela hatiku yang telah koyak dan berdarah…

Buat apa?? Untuk apa ku berteriak sedangkan racun ini masih bertengger ditengah-tengah syaraf otakku yang membeku…

Prupuk – 3 mei 08 – 13.55

Read Full Post »

                                           <>Inilah salah satu sudut stasiun ibukota yg menjadi kebahagiaan sebagian orang karena tak ada tempat lain lagi untuk bernaung.Kota ini makin tua dan terbatuk-batuk dengan.bebannya yang semakin berat menanggung semua orang yang berharap keberuntungan disini….Kota ini semakin kering seiring dengan kemerdekaan dng segala kbebasannya….bebas melanggar lalu lintas, ,bebas corat-coret, bebas buang sampah,sampai dengan bebas korupsi.Mungkin Cuma satu yang tidak bebas adalah tidak bebas telanjang di taman kota.

Ada apa dengan penghuni kota ini? Apakah mungkin hidup sudah semakin sulit sehingga yang namanya disiplin akan menjadi beban bagi otak mereka.. Wajar juga sih…Bagaimana mau disiplin kalo mencari kerja saja sulit,buat apa bersih kalo perut aja lapar…besar dari dari kita masih menjunjung tinggi faktor ekonomi diatas segala-galanya. Walo masih tersisa orang-orang yg really dan benar-benar ikhlas menghadapi segala sesuatu dengan lapang dada.Tapi inipun sulit menjadi patokan…karena kedok agama dan ikhlas sudah menjadi pakaian sehari-hari demi kepentingan seputar perutnya. Sakitkah sistem negara ini? Ato rahmat telah dicabut?

Berbusa-busa orang bicara tentang konsep dan hasilnya pun tampak berbusa..permasalahan makin kompleks ketika konsistensi terusik oleh kepentingan.baik kelompok maupun pribadi…tp apa yang bisa kita lakukan? Utk mengurus diri sendiri msh sulit, dan berteman beribu kata-kata normatif yang menjadi makanan seharia-hari dan tak mudah menelan itu semua kedalam otak kanan kita dan menjadikannya sebagai tanda yang harus diikuti.

Hari makin siang dan sebagian kita tak tau hrs berbuat apa.yg terlintas hanya besok makan apa,dan kerja apa,dan semua yang masih berputar pada perut.penat kepala ini serasa menamparku,sedang alam kubur masih menyisakan pertanyaan pada kita..

ku palingkan pandanganku menengok pada gadis manis lugu melamun.dibalik jendela.seperti tak ada beban pd matanya.hanya rindu pd kekasih mgk yg dibygkannya..ato hny rindu pd org tuanya.serasa gadis ini adl manusia yg plg berbhgia.tanpa beban,tanpa mslh hdp yg mendera,menyeret hati hingga compangcamping dibuatnya..

cirebon-3mei08-12.37

Read Full Post »

Kasih Sayang Dan Persamaan

Sahabatku yang papa, jika engkau mengetahui, bahwa Kemiskinan yang membuatmu sengsara itu mampu menjelaskan pengetahuan tentang Keadilan dan pengertian tentang Kehidupan, maka engkau pasti berpuas hati dengan nasibmu.

Kusebut pengetahuan tentang Keadilan : Kerana orang kaya terlalu sibuk mengumpul harta utk mencari pengetahuan. Dan kusebut pengertian tentang Kehidupan : Kerana orang yang kuat terlalu berhasrat mengejar kekuatan dan keagungan bagi menempuh jalan kebenaran.

Bergembiralah, sahabatku yang papa, kerana engkau merupakan penyambung lidah Keadilan dan Kitab tentang Kehidupan. Tenanglah, kerana engkau merupakan sumber kebajikan bagi mereka yang memerintah terhadapmu, dan tiang kejujuran bagi mereka yang membimbingmu.

Jika engkau menyedari, sahabatku yang papa, bahawa malang yang menimpamu dalam hidup merupakan kekuatan yang menerangi hatimu, dan membangkitkan jiwamu dari ceruk ejekan ke singgahsana kehormatan, maka engkau akan merasa berpuas hati kerana pengalamanmu, dan engkau akan memandangnya sebagai pembimbing, serta membuatmu bijaksana.

Kehidupan ialah suatu rantai yang tersusun oleh banyak mata rantai yang berlainan. Duka merupakan salah satu mata rantai emas antara penyerahan terhadap masa kini dan harapan masa depan. Antara tidur dan jaga, di luar fajar merekah.

Sahabatku yang papa, Kemiskinan menyalakan api keagungan jiwa, sedangkan kemewahan memperlihatkan keburukannya. Duka melembutkan perasaan, dan Suka mengubati hati yang luka. Bila Duka dan kemelaratan dihilangkan, jiwa manusia akan menjadi batu tulis yang kosong, hanya memperlihatkan kemewahan dan kerakusan.

Ingatlah, bahawa keimanan itu adalah peribadi sejati Manusia. Tidak dapat ditukar dengan emas; tidak dapat dikumpul seperti harta kekayaan. Mereka yang mewah sering meminggirkan keimananan, dan mendakap erat emasnya.

Orang muda sekarang jangan sampai meninggalkan Keimananmu, dan hanya mengejar kepuasan diri dan kesenangan semata. Orang-orang papa yang kusayangi, saat bersama isteri dan anak sekembalinya dari ladang merupakan waktu yang paling mesra bagi keluarga, sebagai lambang kebahagiaan bagi takdir angkatan yang akan datang. Tapi hidup orang yang senang bermewah-mewahan dan mengumpul emas, pada hakikatnya seperti hidup cacing di dalam kuburan. Itu menandakan ketakutan.

Air mata yang kutangiskan, wahai sahabatku yang papa, lebih murni daripada tawa ria orang yang ingin melupakannya, dan lebih manis daripada ejekan seorang pencemuh. Air mata ini membersihkan hati dan kuman benci, dan mengajar manusia ikut merasakan pedihnya hati yang patah.

Benih yang kautaburkan bagi si kaya, dan akan kau tuai nanti, akan kembali pada sumbernya, sesuai dengan Hukum Alam. Dan dukacita yang kausandang, akan dikembalikan menjadi sukacita oleh kehendak Syurga. Dan angkatan mendatang akan mempelajari Dukacita dan Kemelaratan sebagai pelajaran tentang Kasih Sayang dan Persamaan.

~ Kahlil Gibran ~(Dari ‘Suara Sang Guru’)

Ciuman Pertama

Itulah tegukan pertama dari cawan yang telah diisi oleh para dewa dari air pancuran cinta.

Itulah batas antara kebimbangan yang menghiburkan dan menyedihkan hati dengan takdir yang mengisinya dengan kebahagiaan.

Itulah baris pembuka dari suatu puisi kehidupan , bab pertama dari suatu novel tentang manusia.

Itulah tali yang menghubungkan pengasingan masa lalu dengan kejayaan masa depan.

Ciuman pertama menyatukan keheningan perasaan-perasaan dengan nyanyian- nyanyiannya.

Itulah satu kata yang diucapkan oleh sepasang bibir yang menyatukan hati sebagai

singgahsana, cinta sebagai raja, kesetiaan sebagai mahkota.

Itulah sentuhan lembut yang mengungkapkan bagaimana jari-jemari angin mencumbui mulut bunga mawar, mempesonakan desah nafas kenikmatan panjang dan rintihan manis nan lirih.

Itulah permulaan getaran-getaran yang memisahkan kekasih dari dunia ruang dan matra dan membawa mereka kepada ilham dan impian-impian.

Ia memadukan taman bunga berbentuk bintang-bintang dengan bunga buah delima, menyatukan dua aroma untuk melahirkan jiwa ketiga.

Jika pandangan pertama adalah seperti benih yang ditaburkan para dewa di ladang hati manusia, maka ciuman pertama mengungkapkan bunga pertama yang mekar pada ranting pohon cabang pertama kehidupan.

~ Kahlil Gibran ~

Nasihat Jiwaku

Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar

mencintai semua orang yang membenciku,

Dan berteman dengan mereka yang memfitnahku.

Jiwaku menasihatiku dan mengungkapkan kepadaku

bahawa cinta tidak hanya menghargai orang yang mencintai,

tetapi juga orang yang dicintai.

Sejak saat itu bagiku cinta ibarat jaring lelabah di antara dua bunga, dekat satu sama lain;

Tapi kini dia menjadi suatu lingkaran cahaya di sekeliling matahari yang tiada berawal pun tiada berakhir, Melingkari semua yang ada, dan bertambah secara kekal.

Jiwaku menasihatiku dan mengajarku agar melihat kecantikan yang ada di

sebalik bentuk dan warna.

Jiwaku memintaku untuk menatap semua yang buruk dengan tabah sampai nampaklah keelokannya.

Sesungguhnya sebelum jiwaku meminta dan menasihatiku,

Aku melihat keindahan seperti titik api yang tergulung asap;

tapi sekarang asap itu telah tersebar dan menghilang, dan aku hanya melihat api yang membakar.

Jiwaku menasihatiku dan memintaku untuk mendengar suara yang keluar bukan dari lidah maupun dari tenggorokan.

Sebelumnya aku hanya mendengar teriakan dan jeritan di telingaku yang bodoh dan sia-sia.

Tapi sekarang aku belajar mendengar keheningan,

Yang bergema dan melantunkan lagu dari zaman ke zaman.

Menyanyikan nada langit, dan menyingkap tabir rahsia keabadiaan..

Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar memuaskan kehausanku dengan meminum anggur yang tak dituangkan ke dalam cangkir-cangkir,

Yang belum terangkat oleh tangan, dan tak tersentuh oleh bibir

Hingga hari itu kehausanku seperti nyala redup yang terkubur dalam abu.

Tertiup angin dingin dari musim-musim bunga;

Tapi sekarang kerinduan menjadi cangkirku,

Cinta menjadi anggurku, dan kesendirian adalah kebahagianku.

Jiwaku menasihatiku dan memintaku mencari yang tak dapat dilihat;

Dan jiwaku menyingkapkan kepadaku bahwa apa yang kita sentuh adalah apa yang kita impikan.

Jiwaku mengatakan padaku dan mengundangku untuk menghirup harum tumbuhan

yang tak memiliki akar, tangkai maupun bunga, dan yang tak pernah dapat dilihat mata.

Sebelum jiwaku menasihati, aku mencari bau harum dalam kebun-kebun,

Dalam botol minyak wangi tumbuhan-tumbuhan dan bejana dupa; Tapi sekarang aku menyedari hanya pada dupa yang tak dibakar,

Aku mencium udara lebih harum dari semua kebun-kebun di dunia ini dan semua angin di angkasa raya.

Jiwaku menasihatiku dan memintaku agar tidak merasa mulia

kerana pujian.

Dan agar tidak disusahkan oleh ketakutan kerana cacian.

Sampai hari ini aku berasa ragu akan nilai pekerjaanku;

Tapi sekarang aku belajar;

Bahawa pohon berbunga di musim bunga, dan berbuah di musim panas

Dan menggugurkan daun-daunnya di musim gugur untuk menjadi benar-benar telanjang di musim dingin.

Tanpa merasa mulia dan tanpa ketakutan atau tanpa rasa malu.

Jiwaku menasihatiku dan meyakinkanku

Bahawa aku tak lebih tinggi berbanding cebol ataupun tak lebih rendah

berbanding raksasa.

Sebelumnya aku melihat manusia ada dua,

Seorang yang lemah yang aku caci atau kukasihani,

Dan seorang yang kuat yang kuikuti, maupun yang kulawan

dalam pemberontakan.

Tapi sekarang aku tahu bahwa aku bahkan dibentuk oleh tanah

yang sama darimana semua manusia diciptakan.

Bahwa unsur-unsurku adalah unsur-unsur mereka, dan pengembaraan mereka adalah juga milikku.

Bila mereka melanggar aku juga pelanggar,

Dan bila mereka berbuat baik, maka aku juga bersama perbuatan baik mereka.

Bila mereka bangkit, aku juga bangkit bersama mereka;

Bila mereka tinggal di belakang, aku juga menemani mereka.

Jiwaku menasihatiku dan memerintahku untuk melihat bahawa cahaya yang kubawa bukanlah cahayaku,

Bahawa laguku tidak diciptakan dalam diriku;

Kerana meski aku berjalan dengan cahaya, aku bukanlah cahaya,

Dan meskipun aku bermain kecapi yang diikat kemas oleh dawai-dawaiku,

Aku bukanlah pemain kecapi.

Jiwaku menasihatiku dan mengingatkanku untuk mengukur waktu dengan perkataan ini: “Di sana ada hari semalam dan di sana ada hari esok.” Pada saat itu aku menganggap masa lampau sebuah zaman yang lenyap dan akan dilupakan, Dan masa depan kuanggap suatu masa yang tak bisa kucapai;

Tapi kini aku terdidik perkara ini : Bahawa dalam keseluruhan waktu masa kini yang singkat,

serta semua yang ada dalam waktu, Harus diraih sampai dapat.

Jiwaku menasihatiku, saudaraku, dan menerangiku.

Dan seringkali jiwamu menasihati dan menerangimu.

Kerana engkau seperti diriku, dan tak ada beza di antara kita.

Kusimpan apa yang kukatakan dalam diriku ini dalam kata-kata yang kudengar dalam heningku,

Dan engkau jagalah apa yang ada di dalam dirimu, dan engkau adalah penjaga yang sama baiknya seperti yang kukatakan ini.

~ Kahlil Gibran ~

Kehidupan

Engkau dibisiki bahwa hidup adalah kegelapan

Dan dengan penuh ketakutan

Engkau sebarkan apa yang telah dituturkan padamu

penuh kebimbangan

Kuwartakan padamu bahawa hidup

adalah kegelapan

jika tidak diselimuti oleh kehendak

Dan segala kehendak akan buta bila tidak diselimuti pengetahuan

Dan segala macam pengetahuan akan kosong

bila tidak diiringi kerja

Dan segala kerja hanyalah kehampaan

kecuali disertai cinta

Maka bila engkau bekerja dengan cinta

Engkau sesungguhnya tengah

menambatkan dirimu

Dengan wujudnya kamu, wujud manusia lain

Dan wujud Tuhan.

~ Kahlil Gibran ~

Read Full Post »

Cinta

Mereka berkata tentang serigala dan tikus

Minum di sungai yang sama

Di mana singa melepas dahaga

Mereka berkata tentang helang dan hering

Menjunam paruhnya ke dalam bangkai yg sama

Dan berdamai – di antara satu sama lain,

Dalam kehadiran bangkai – bangkai mati itu

Oh Cinta, yang tangan lembutnya

mengekang keinginanku

Meluapkan rasa lapar dan dahaga

akan maruah dan kebanggaan,

Jangan biarkan nafsu kuat terus menggangguku

Memakan roti dan meminum anggur

Menggoda diriku yang lemah ini

Biarkan rasa lapar menggigitku,

Biarkan rasa haus membakarku,

Biarkan aku mati dan binasa,

Sebelum kuangkat tanganku

Untuk cangkir yang tidak kau isi,

Dan mangkuk yang tidak kau berkati

~ Kahlil Gibran ~

(Dari ‘The Forerunner)

Cinta

Kemarin aku berdiri berdekatan pintu gerbang sebuah rumah ibadat dan bertanya kepada manusia yang lalu-lalang di situ tentang misteri dan kesucian cinta.

Seorang lelaki setengah baya menghampiri, tubuhnya rapuh wajahnya gelap. Sambil mengeluh dia berkata, “Cinta telah membuat suatu kekuatan menjadi lemah, aku mewarisinya dari Manusia Pertama.”

Seorang pemuda dengan tubuh kuat dan besar menghampiri. Dengan suara bagai menyanyi dia berkata, “Cinta adalah sebuah ketetapan hati yang ditumbuhkan dariku, yang rnenghubungkan masa sekarang dengan generasi masa lalu dan generasi yang akan datang.’

Seorang wanita dengan wajah melankolis menghampiri dan sambil mendesah, dia berkata, ‘Cinta adalah racun pembunuh, ular hitam berbisa yang menderita di neraka, terbang melayang dan berputar-putar menembusi langit sampai ia jatuh tertutup embun, ia hanya akan diminum oleh roh-roh yang haus. Kemudian mereka akan mabuk untuk beberapa saat, diam selama satu tahun dan mati untuk selamanya.’

Seorang gadis dengan pipi kemerahan menghampiri dan dengan tersenyum dia berkata, “Cinta itu laksana air pancuran yang digunakan roh pengantin sebagai siraman ke dalam roh orang-orang yg kuat, membuat mereka bangkit dalam doa di antara bintang-bintang di malam hari dan senandung pujian di depan matahari di siang hari.’

Setelah itu seorang lelaki menghampiri. Bajunya hitam, janggutnya panjang dengan dahi berkerut, dia berkata, “Cinta adalah ketidakpedulian yang buta. la bermula dari hujung masa muda dan berakhir pada pangkal masa muda.’

Seorang lelaki tampan dengan wajah bersinar dan dengan bahagia berkata, ‘Cinta adalah pengetahuan syurgawi yang menyalakan mata kita. Ia menunjukkan segala sesuatu kepada kita seperti para dewa melihatnya.’

Seorang bermata buta menghampiri, sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke tanah dan dia kemudian berkata sambil menangis, ‘Cinta adalah kabus tebal yang menyelubungi gambaran sesuatu darinya atau yang membuatnya hanya melihat hantu dari nafsunya yang berkelana di antara batu karang, tuli terhadap suara-suara dari tangisnya sendiri yang bergema di lembah-lembah.’

Seorang pemuda, dengan membawa sebuah gitar menghampiri dan menyanyi, ‘Cinta adalah cahaya ghaib yang bersinar dari kedalaman kehidupan yang peka dan mencerahkan segala yang ada di sekitarnya. Engkau bisa melihat dunia bagai sebuah perarakan yang berjalan melewati padang rumput hijau. Kehidupan adalah bagai sebuah mimpi indah yang diangkat dari kesedaran dan kesedaran.’

Seorang lelaki dengan badan bongkok dan kakinya bengkok bagai potongan-potongan kain menghampiri. Dengan suara bergetar, dia berkata, “Cinta adalah istirahat panjang bagi raga di dalam kesunyian makam, kedamaian bagi jiwa dalam kedalaman keabadian.’

Seorang anak kecil berumur lima tahun menghampiri dan sambil tertawa dia berkata, “Cinta adalah ayahku, cinta adalah ibuku. Hanya ayah dan ibuku yang mengerti tentang cinta.”

Waktu terus berjalan. Manusia terus-menerus melewati rumah ibadat. Masing-masing mempunyai pandangannya tersendiri tentang cinta. Semua menyatakan harapan-harapannya dan mengungkapkan misteri-misteri kehidupannya.

~ Kahlil Gibran ~

Waktu

Dan seorang pakar astronomi berkata, “Guru, bagaimanakah perihal Waktu?”

Dan dia menjawab:

Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.

Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.

Suatu ketika kau ingin membuat anak sungai, di mana atas tebingnya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.

Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesedaran akan kehidupan nan abadi,

Dan mengetahui bahawa semalam hanyalah kenangan utk hari ini dan esok adalah harapan dan impian utk hari ini.

Dan yang menyanyi dan merenung dari dalam jiwa, sentiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.

Siapa di antara kalian yang tidak merasa bahawa daya mencintainya tiada batasnya?

Dan siapa pula yang tidak merasa bahawa cinta sejati, walau tiada batas, terkandung di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari fikiran cinta ke fikiran cinta, pun bukan dari tindakan cinta ke tindakan cinta yang lain?

Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbahagi dan tiada kenal ruang?

Tapi jika di dalam fikiranmu baru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkumi semua musim yang lain,

Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.

~ Kahlil Gibran ~Dari Petikan Sang Nabi (The Prophet)

PERENGGAN 12

Seorang ahli hukum menyusul bertanya;

Dan bagaimana tentang undang-undang kita?

Dijawabnya;

Kalian senang meletakkan perundangan,

namun lebih senang lagi melakukan perlanggaran,

Bagaikan kanak-kanak yang asyik bermain di tepi pantai,

yang penuh kesungguhan menyusun pasir jadi menara,

kemudian menghancurkannya sendiri,

sambil gelak tertawa ria.

Tapi,

selama kau sedang sibuk menyusun menara pasirmu,

sang laut menghantarkan lebih banyak lagi pasir ke tepi,

Dan pada ketika kau menghancurkan menara buatanmu,

sang laut pun turut tertawa bersamamu.

Sesungguhnya,

samudera sentiasa ikut tertawa,

bersama mereka yang tanpa dosa.

Tapi bagaimanakah mereka,

yang menganggap kehidupan bukan sebagai samudera,

dan melihat undang-undang buatannya sendiri,

bukan ibarat menara pasir?

Merekalah yang memandang kehidupan,

laksana sebungkal batu karang,

dan undang-undang menjadi pahatnya,

untuk memberinya bentuk ukiran,

menurut selera manusia,

sesuai hasrat kemahuan.

Bagaimana dia,

si tempang yang membenci para penari?

Bagaimana pula kerbau yang menyukai bebannya,

dam mencemuh kijang,

menamakannya haiwan liar tiada guna?

Lalu betapa ular tua,

yang tak dapat lagi menukar kulitnya,

dan kerana itu menyebut ular lain sebagai telanjang,

tak kenal susila?

Ada lagi dia,

yang pagi- pagi mendatangi pesta,

suatu keramaian perkahwinan,

kemudian setelah kenyang perutnya,

dengan badan keletihan,

meninggalkan keramaian dengan umpatan,

menyatakan semua pesta sebagai suatu kesalahan,

dan semua terlibat melakukan kesalahan belaka.

Apalah yang kukatakan tentang mereka,

kecuali bahawa memang mereka berdiri di bawah sinar mentari,

namun berpaling wajah, dan punggung mereka membelakangi?

Mereka hanya melihat bayangannya sendiri,

dan bayangan itulah menjadi undang-undangnya.

Apakah arti sang suria bagi mereka,

selain sebuah pelempar bayangan?

Dan apakah kepatuhan hukum baginya,

selain terbongkok dan melata di atas tanah,

mencari dan menyelusuri bayangan sendiri?

Tapi kau,

yang berjalan menghadapkan wajah ke arah mentari,

bayangan apa di atas tanah,

yang dapat menahanmu?

Kau yang mengembara di atas angin,

kincir mana yang mampu memerintahkan arah perjalananmu,

hukum mana yang mengikatmu,

bila kau patahkan pikulanmu,

tanpa memukulnya pada pintu penjara orang lain?

Hukum apa yang kau takuti,

jikalau kau menari-nari,

tanpa kakimu tersadung belenggu orang lain?

Dan siapakah dia yang menuntutmu,

bila kau mencampakkan pakaianmu,

tanpa melemparkannya di jalan orang lain?

Rakyat Orphalese,

kalian mungkin mampu memukul gendang,

dan kalian dapat melonggarkan tali kecapi,

namun katakan,

siapakah yang dapat menghalangi,

burung pipit untuk menyanyi.

PERENGGAN 13

Seorang ahli pidato maju ke depan;

bertanyakan masalah kebebasan.

Dia mendapat jawapan;

Telah kusaksikan,

di gerbang kota maupun dekat tungku perapian,

dikau bertekuk lutut memuja Sang Kebebasan.

Laksana hamba budak merendahkan diri di depan sang tuan,

si zalim yang disanjung puja,

walaupun dia hendak menikam.

Ya, sampai pun di relung-relung candi,

dan keteduhan pusat kota,

kulihat yang paling bebas pun diantara kalian,

mengendong kebebasannya laksana pikulan,

mengenakannya seperti besi pembelenggu tangan.

Hatiku menitikkan darah dalam dada,

kerana kutahu,

bahawa kau hanya dapat bebas sepenuhnya,

pabila kau dapat menyedari;

bahawa keinginan untuk kebebasan pun,

merupakan sebentuk belenggu jiwamu.

Hanya jikalau kau pada akhirnya,

berhenti bicara tentang Kebebasan,

sebagai suatu tujuan dan sebuah hasil perbincangan,

maka kau akan bebas,

bila hari-hari tiada kosong dari beban fikiran,

dan malam-malammu tiada sepi dari kekurangan dan kesedihan.

Bahkan justeru Kebebasanmu berada dalam rangkuman beban hidup ini,

tetapi yang berhasil engkau atasi,

dan jaya kau tegak menjulang tinggi,

sempurna, terlepas segala tali-temali.

Dan bagaimana kau kan bangkit,

mengatasi hari dan malammu,

pabila kau tak mematahkan belenggu ikatan,

yang di pagi pengalamanmu,

telah engkau kaitkan pada ketinggian tengah harimu?

Sesungguhnyalah,

apa yang kau namai Kebebasan,

tak lain dari mata terkuat diantara mata rantai belenggumu,

walau kilaunya gemerlap cemerlang di sinar suria,

serta menyilaukan pandang matamu.

Dan sedarkah engkau,

apa yang akan kau lepaskan itu?

tiada lain adalah cebisan dari dirimu,

jikalau kau hendak mencapai kebebasan yang kau rindu.

Pabila yang akan kau buang itu,

suatu hukum yang tak adil,

akuilah bahwa dia telah kau tulis dengan tanganmu sendiri,

serta kau pahatkan diatas permukaan keningmu.

Mustahil kau akan menghapusnya,

dengan hanya membakar kitab-kitab hukummu,

tak mungkin pula dengan cara membasuh kening para hakimmu,

walau air seluruh lautan kaucurahkan untuk itu.

Pabila seorang zalim yang hendak kau tumbangkan,

usahakanlah dahulu,

agar kursi tahtanya yang kau tegakkan di hatimu,

kau cabut akarnya sebelum itu.

Sebab bagaimanakah seorang zalim,

dapat memerintah orang bebas dan punya harga diri,

jika bukan engkau sendiri membiarkannya,

menodai kebebasan yang kaujunjung tinggi,

mencorengkan arang pada harkat martabat kemanusiaanmu peribadi?

Pabila suatu beban kesusahan yang hendak kautanggalkan,

maka ingatlah bahwa beban itu telah pernah menjadi pilihanmu,

bukannya telah dipaksakan diatas pundakmu.

Bilamana ketakutan yang ingin kau hilangkan,

maka perasaan ngeri itu bersarang di hatimu,

bukannya berada pada dia yang kau takuti.

Sebenarnyalah, segalanya itu bergetar dalam diri,

dalam rangkulan setengah terkatup, yang abadi;

antara;

yang kauinginkan dan yang kau takuti,

yang memuakkan dan yang kausanjung puji,

yang kaukejar-kejar dan yang hendak kau tinggal pergi.

Kesemuanya itu hadir dalam dirimu selalu,

bagaikan Sinar dan Bayangan,

dalam pasangan-pasangan,

yang lestari berpelukan.

Dan pabila sang bayangan menjadi kabur, melenyap hilang,

maka sinar yang tinggal, wujudlah bayangan baru,

bagi sinar yang lain;

demikianlah selalu.

Seperti itulah pekerti Kebebasan,

pabila ia kehilangan pengikatnya yang lama,

maka ia sendirilah menjadi pengikat baru,

bagi Kebebasan yang lebih agung,

sentiasa.

~ Kahlil Gibran ~

Read Full Post »

Older Posts »