Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘moslem’

Bandung Beautiful Euy – Masjid Agung Bandung bukan lagi tempat yang asing bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Setiap hari, masjid Agung Bandung tak pernah ssepi dari pengunjung, apalagi pas libur sekolah tiba. Letak Masjid Agung Bandung yang berada di tengah-tengah kegiatan komersial yang amat padat, merupakan ciri utama yang dimiliki Masjid Agung bandung. Di tengah hiruk-pikuk kawasan perbelanjaan atau `shopping`, perkantoran, perbankan, hiburan, dan segala macam bisnis lainnya termasuk tempat berjubelnya kaki lima yang merampas hampir seluruh trotoar pejalan kaki, masjid agung berada di sana. Tidak hanya itu, teras Masjid Agung dan halaman rumputnya menjadi tempat pengunjung untuk melepas lelah, ada yang sekedar duduk, atau tidur disana. Interaksi ini menjadi semacam rantai simbiosis mutualisme yang tak dapat lepas. Dimana para penjual dan pengunjung sama-sama membutuhkan sesuai hukum pasar yang berlaku.

Waktu terus berjalan, tanpa disadari, hari demi hari tampilan masjid semakin seperti tenggelam dalam lautan hiruk pikuk segala macam aktifitas tersebut di atas. Apalagi setelah dibangunnya pagar yang tinggi di depan/sebelah timur bangunan masjid, maka masjid agung seperti hendak menghindar dari tekanan-tekanan dari luar yang boleh jadi memang mengganggu. Faktor keamanan misalnya, memang suatu hal yang perlu diselesaikan. Keberadaan security Masjid seperti tidak berdaya ketika puluhan pedagang dengan gerobaknya seperti menjadi penghuni tetap dalam menjalankan usahanya.

Masjid Agung Bandung sepertinya perlu diintegrasikan keberadaan dengan lingkungan sekitarnya. Jadi tidak memisahkan diri atau malah meninggalkan lokasinya sekarang ini (dipindah).Yang berarti juga bahwa masjid harus diintegrasikan keberadaannya dengan hiruk-pikuknya aktifitas komersial. Tentu bukan berarti digabung, tetapi diintegrasikan secara serasi, harmoni dan seirama. Syiar-syiarnya juga harus lebih ditampakkan. Berarti pula bahwa ciri religius dalam ruang dan bentuk arsitektur serta ruang kotanya perlu lebih diekspresikan sehingga tampil menjadi sentral kawasan pusat kota khususnya dan Kota bandung pada umumnya.

Menurut sumber, dalam perjalanan sejarah yang hampir melampaui masa dua abad, Masjid Agung Bandung pernah mengalami `zaman keemasan` yakni ketika dipimpin oleh ulama yang juga sastrawan dan filosof Hoofd Penghulu Bandung Haji Hasan Mustafa.

Masjid Agung di tahun 1930-an tersebut paling menonjol fungsinya sebagai pusat ibadah dan sosial penduduk kota. Gaung kohkol dan bedugnya masih terdengar di seantero penjuru kota. Masjid menjadi tempat merayakan Mauludan, Rajaban, Shalat Ied dan belajar mengaji. Ia juga menjadi tempat baitul mal yang menerima zakat fitrah dan mengurusi kesejahteraan umat.

Setia sampai usia senja-Batu Akik di Masjid Agung Bandung

Pak Kosim, 79 th adalah salah satu pedagang, yang biasa menggelar dagangannya di pelataran utara masjid Agung Bandung. Dengan fisiknya yang mulai senja, lengkap dengan kacamata kuno, terselip sebatang rokok, dan Batu Akik Madu dijari manis tangan kanannya, Pak Kosim sabar menunggu dagangannya dilirik para pengunjung masjid. Deretan batu akik yang ditawarkan tidak banyak, hanya sekitar 20 biji yang sudah siap pakai (sudah diikat), dan sekitar 10 biji yang belum diikat. Kebanyakan akik yang digelar adalah Batu Akik dari keluarga Sulaeman dan Akik Badar, Seperti Sulaeman Mega, Sulaeman Wulung, tapi ada juga badar asem, badar bumi, badar lumut, Batu Wulung, dan sedikit batu permata seperti kecubung kecil. “Lamun ti Sulaeman teh aya 270 jenis cep” ujar pak Kosim sembari menghabiskan batang rokoknya yang sudah hampir habis. Setiap hari pak Kosim berangkat dari rumahnya di kawasan Pagarsih-Bandung menggunakan angkutan umum dan kembali pulang setelah sholat Ashar sekitar pukul 16.00 WIB.

Pak Kosim adalah salah satu dari sekian ribu masyarakat bandung yang masih terus bertahan hidup dengan segala kekuatan fisik yang dimiliki. Di usia yang sudah terbilang senja, 79 th, pak Kosim tetap sabar berikhtiar akan rejeki Allah SWT melalui usaha dagangnya dengan menawarkan batu Akik yang dimilikinya.

Ada keuntungan tersendiri bagi pak Kosim, karena di Masjid Agung hanya pak Kosimlah yang menawarkan Batu Akik. Kalau Tasbeh dan minyak sudah banyak pesaingnya. Penulis cukup tertegun dan sempat merenung, terbayang Ayahnya yang telah tiada di usia 72 th. Selisih 7 th dengan pak Kosim gumam penulis. Tapi karakter kehidupan serta semangat yang dimiliki pak Kosim mengingatkan pada Almarhum Ayahnda penulis yang telah kembali ke hadirat Illahi tahun lalu.

Sore telah menjelang, adzan sholat Ashar telah berkumandang. Tepat pukul 15.45 pak Kosim mulai membereskan dagangannya yang terdirik dari Batu Akik, Tasbeh, Filter rokok, dan sedikit minyak non alkohol. Tak terlihat kesedihan kesulitan hidup yang mungkin sudah menjadi teman sehari-hari baginya, tak terlintas dimatanya kelelahan akan menjalani setiap jengkal jalan untuk kembali kepada cucunya dirumah. Pak Kosim, sesosok tua yang setia sampai diusia senja berteman batu Akik, bersandar dan memohon kepada Illahi untuk dimudahkan segala urusan didunia dan diakherat. “Hidup hanya sementara cep, jangan bias dengan segala manis dunia. Hidup kekal dan selamanya adalah di akherat kelak”. Derita kesulitan hanya menjadi bagian penggalan nafas manusia yang sudah ditakdirkan hadir didunia. Perjalanan tidaklah panjang karena setelah didunia akan ada kehidupan lagi. Pak Kosim melangkah berjalan pulang, dengan rasa syukur akan hasil dagangan hari ini yang lumayan laris….untuk melanjutkan hidup…

Advertisements

Read Full Post »

Setiap kematian adalah nyanyi sunyi…setiap kematian adalah sebuah kesepian yang tak terperi. Kematian adalah kesendirian. Bahkan kematian adalah kengerian yang terbayangkan. Bagaimana mungkin bisa membayangkan kematian ketika kita tidak pernah merasakan?

Kinilah saatnya merenung, bertanya kepada diri sendiri, sudah siapkah kita untuk mati? Bukan, bukan untuk mati, melainkan mengarungi hidup sesudah mati…

Tahun dan bulan terus berlalu, hari, jam, menit, dan detik berjalan menggiring waktu sejalan detak jantung tiap manusia. Hidup adalah semakin mendekati kematian, dan pasti akan datang tamu terakhir dalam hidup masing-masing dari kita. Entah besok hari, minggu depan, bulan depan, tahun depan, tak ada satupun yang tahu…

Sekilas doa dan harapan terlintas….Ya Rabbi, bimbinglah kami untuk memahami dan menggenggam makna kematian, jangan biarkan kami putus asa akan kematian, tapi bimbinglah kami untuk dapat menjadikan kematian sebagai semangat untuk hidup sebaik-baiknya menuju ridlomu sampai ajal menjemput….

Read Full Post »

<>Wiridan itu maksudnya membaca bacaan tertentu setelah shalat. Jika dikumpulan semuanya ada puluhan macam. Tapi kalimat pokoknya hampir sama. Tentu ada lafadl:

سُبْحَانَ اللهُ, الحَمْدُ ِللهِ, اللهُ أكْبَرُ

Mukaddimahnya bisa panjang, juga penutupnya. Hal itu berdasarkan pelajaran yang diperoleh dari kiai atau guru dari santri yang bersangkutan.

(more…)

Read Full Post »

<>Ada satu topik tulisan lagi yang terkait dengan doa dan kiriman bacaan surat Al-Fatihah, yang sebagian masyarakat mengatakan tidak akan sampai, atau tidak akan diterima. Perlu kita pahami dengan dasar hati tanpa terpengaruh oleh segala macam desakan teknologi sehingga mempengaruhi cara pandang masyarakat menjadi dan tenggelam dalam segala macam pandangan yang serba “Neo”….

(more…)

Read Full Post »

<>Banyak kalangan yang mengatakan Tahlil atau Tahlilan adalah suatu hal yang Bid’ah. Saat ini dimana banyak sekali hal yang bersifat ”Neo” yang lebih cenderung memberikan ”judge” pada sesuatu, akan berpotensi menimbulkan perpecahan yang akhirnya dikembalikan lagi kepada nurani masih-masih atas yang diyakininya. Karena hal ini dilakukan juga tidak pasti memiliki dasar kuat. Berikut sedikit cuplikan untuk membuka wawasan kita….

(more…)

Read Full Post »