Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘khalil gibran’

Kasih Sayang Dan Persamaan

Sahabatku yang papa, jika engkau mengetahui, bahwa Kemiskinan yang membuatmu sengsara itu mampu menjelaskan pengetahuan tentang Keadilan dan pengertian tentang Kehidupan, maka engkau pasti berpuas hati dengan nasibmu.

Kusebut pengetahuan tentang Keadilan : Kerana orang kaya terlalu sibuk mengumpul harta utk mencari pengetahuan. Dan kusebut pengertian tentang Kehidupan : Kerana orang yang kuat terlalu berhasrat mengejar kekuatan dan keagungan bagi menempuh jalan kebenaran.

Bergembiralah, sahabatku yang papa, kerana engkau merupakan penyambung lidah Keadilan dan Kitab tentang Kehidupan. Tenanglah, kerana engkau merupakan sumber kebajikan bagi mereka yang memerintah terhadapmu, dan tiang kejujuran bagi mereka yang membimbingmu.

Jika engkau menyedari, sahabatku yang papa, bahawa malang yang menimpamu dalam hidup merupakan kekuatan yang menerangi hatimu, dan membangkitkan jiwamu dari ceruk ejekan ke singgahsana kehormatan, maka engkau akan merasa berpuas hati kerana pengalamanmu, dan engkau akan memandangnya sebagai pembimbing, serta membuatmu bijaksana.

Kehidupan ialah suatu rantai yang tersusun oleh banyak mata rantai yang berlainan. Duka merupakan salah satu mata rantai emas antara penyerahan terhadap masa kini dan harapan masa depan. Antara tidur dan jaga, di luar fajar merekah.

Sahabatku yang papa, Kemiskinan menyalakan api keagungan jiwa, sedangkan kemewahan memperlihatkan keburukannya. Duka melembutkan perasaan, dan Suka mengubati hati yang luka. Bila Duka dan kemelaratan dihilangkan, jiwa manusia akan menjadi batu tulis yang kosong, hanya memperlihatkan kemewahan dan kerakusan.

Ingatlah, bahawa keimanan itu adalah peribadi sejati Manusia. Tidak dapat ditukar dengan emas; tidak dapat dikumpul seperti harta kekayaan. Mereka yang mewah sering meminggirkan keimananan, dan mendakap erat emasnya.

Orang muda sekarang jangan sampai meninggalkan Keimananmu, dan hanya mengejar kepuasan diri dan kesenangan semata. Orang-orang papa yang kusayangi, saat bersama isteri dan anak sekembalinya dari ladang merupakan waktu yang paling mesra bagi keluarga, sebagai lambang kebahagiaan bagi takdir angkatan yang akan datang. Tapi hidup orang yang senang bermewah-mewahan dan mengumpul emas, pada hakikatnya seperti hidup cacing di dalam kuburan. Itu menandakan ketakutan.

Air mata yang kutangiskan, wahai sahabatku yang papa, lebih murni daripada tawa ria orang yang ingin melupakannya, dan lebih manis daripada ejekan seorang pencemuh. Air mata ini membersihkan hati dan kuman benci, dan mengajar manusia ikut merasakan pedihnya hati yang patah.

Benih yang kautaburkan bagi si kaya, dan akan kau tuai nanti, akan kembali pada sumbernya, sesuai dengan Hukum Alam. Dan dukacita yang kausandang, akan dikembalikan menjadi sukacita oleh kehendak Syurga. Dan angkatan mendatang akan mempelajari Dukacita dan Kemelaratan sebagai pelajaran tentang Kasih Sayang dan Persamaan.

~ Kahlil Gibran ~(Dari ‘Suara Sang Guru’)

Ciuman Pertama

Itulah tegukan pertama dari cawan yang telah diisi oleh para dewa dari air pancuran cinta.

Itulah batas antara kebimbangan yang menghiburkan dan menyedihkan hati dengan takdir yang mengisinya dengan kebahagiaan.

Itulah baris pembuka dari suatu puisi kehidupan , bab pertama dari suatu novel tentang manusia.

Itulah tali yang menghubungkan pengasingan masa lalu dengan kejayaan masa depan.

Ciuman pertama menyatukan keheningan perasaan-perasaan dengan nyanyian- nyanyiannya.

Itulah satu kata yang diucapkan oleh sepasang bibir yang menyatukan hati sebagai

singgahsana, cinta sebagai raja, kesetiaan sebagai mahkota.

Itulah sentuhan lembut yang mengungkapkan bagaimana jari-jemari angin mencumbui mulut bunga mawar, mempesonakan desah nafas kenikmatan panjang dan rintihan manis nan lirih.

Itulah permulaan getaran-getaran yang memisahkan kekasih dari dunia ruang dan matra dan membawa mereka kepada ilham dan impian-impian.

Ia memadukan taman bunga berbentuk bintang-bintang dengan bunga buah delima, menyatukan dua aroma untuk melahirkan jiwa ketiga.

Jika pandangan pertama adalah seperti benih yang ditaburkan para dewa di ladang hati manusia, maka ciuman pertama mengungkapkan bunga pertama yang mekar pada ranting pohon cabang pertama kehidupan.

~ Kahlil Gibran ~

Nasihat Jiwaku

Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar

mencintai semua orang yang membenciku,

Dan berteman dengan mereka yang memfitnahku.

Jiwaku menasihatiku dan mengungkapkan kepadaku

bahawa cinta tidak hanya menghargai orang yang mencintai,

tetapi juga orang yang dicintai.

Sejak saat itu bagiku cinta ibarat jaring lelabah di antara dua bunga, dekat satu sama lain;

Tapi kini dia menjadi suatu lingkaran cahaya di sekeliling matahari yang tiada berawal pun tiada berakhir, Melingkari semua yang ada, dan bertambah secara kekal.

Jiwaku menasihatiku dan mengajarku agar melihat kecantikan yang ada di

sebalik bentuk dan warna.

Jiwaku memintaku untuk menatap semua yang buruk dengan tabah sampai nampaklah keelokannya.

Sesungguhnya sebelum jiwaku meminta dan menasihatiku,

Aku melihat keindahan seperti titik api yang tergulung asap;

tapi sekarang asap itu telah tersebar dan menghilang, dan aku hanya melihat api yang membakar.

Jiwaku menasihatiku dan memintaku untuk mendengar suara yang keluar bukan dari lidah maupun dari tenggorokan.

Sebelumnya aku hanya mendengar teriakan dan jeritan di telingaku yang bodoh dan sia-sia.

Tapi sekarang aku belajar mendengar keheningan,

Yang bergema dan melantunkan lagu dari zaman ke zaman.

Menyanyikan nada langit, dan menyingkap tabir rahsia keabadiaan..

Jiwaku berkata padaku dan menasihatiku agar memuaskan kehausanku dengan meminum anggur yang tak dituangkan ke dalam cangkir-cangkir,

Yang belum terangkat oleh tangan, dan tak tersentuh oleh bibir

Hingga hari itu kehausanku seperti nyala redup yang terkubur dalam abu.

Tertiup angin dingin dari musim-musim bunga;

Tapi sekarang kerinduan menjadi cangkirku,

Cinta menjadi anggurku, dan kesendirian adalah kebahagianku.

Jiwaku menasihatiku dan memintaku mencari yang tak dapat dilihat;

Dan jiwaku menyingkapkan kepadaku bahwa apa yang kita sentuh adalah apa yang kita impikan.

Jiwaku mengatakan padaku dan mengundangku untuk menghirup harum tumbuhan

yang tak memiliki akar, tangkai maupun bunga, dan yang tak pernah dapat dilihat mata.

Sebelum jiwaku menasihati, aku mencari bau harum dalam kebun-kebun,

Dalam botol minyak wangi tumbuhan-tumbuhan dan bejana dupa; Tapi sekarang aku menyedari hanya pada dupa yang tak dibakar,

Aku mencium udara lebih harum dari semua kebun-kebun di dunia ini dan semua angin di angkasa raya.

Jiwaku menasihatiku dan memintaku agar tidak merasa mulia

kerana pujian.

Dan agar tidak disusahkan oleh ketakutan kerana cacian.

Sampai hari ini aku berasa ragu akan nilai pekerjaanku;

Tapi sekarang aku belajar;

Bahawa pohon berbunga di musim bunga, dan berbuah di musim panas

Dan menggugurkan daun-daunnya di musim gugur untuk menjadi benar-benar telanjang di musim dingin.

Tanpa merasa mulia dan tanpa ketakutan atau tanpa rasa malu.

Jiwaku menasihatiku dan meyakinkanku

Bahawa aku tak lebih tinggi berbanding cebol ataupun tak lebih rendah

berbanding raksasa.

Sebelumnya aku melihat manusia ada dua,

Seorang yang lemah yang aku caci atau kukasihani,

Dan seorang yang kuat yang kuikuti, maupun yang kulawan

dalam pemberontakan.

Tapi sekarang aku tahu bahwa aku bahkan dibentuk oleh tanah

yang sama darimana semua manusia diciptakan.

Bahwa unsur-unsurku adalah unsur-unsur mereka, dan pengembaraan mereka adalah juga milikku.

Bila mereka melanggar aku juga pelanggar,

Dan bila mereka berbuat baik, maka aku juga bersama perbuatan baik mereka.

Bila mereka bangkit, aku juga bangkit bersama mereka;

Bila mereka tinggal di belakang, aku juga menemani mereka.

Jiwaku menasihatiku dan memerintahku untuk melihat bahawa cahaya yang kubawa bukanlah cahayaku,

Bahawa laguku tidak diciptakan dalam diriku;

Kerana meski aku berjalan dengan cahaya, aku bukanlah cahaya,

Dan meskipun aku bermain kecapi yang diikat kemas oleh dawai-dawaiku,

Aku bukanlah pemain kecapi.

Jiwaku menasihatiku dan mengingatkanku untuk mengukur waktu dengan perkataan ini: “Di sana ada hari semalam dan di sana ada hari esok.” Pada saat itu aku menganggap masa lampau sebuah zaman yang lenyap dan akan dilupakan, Dan masa depan kuanggap suatu masa yang tak bisa kucapai;

Tapi kini aku terdidik perkara ini : Bahawa dalam keseluruhan waktu masa kini yang singkat,

serta semua yang ada dalam waktu, Harus diraih sampai dapat.

Jiwaku menasihatiku, saudaraku, dan menerangiku.

Dan seringkali jiwamu menasihati dan menerangimu.

Kerana engkau seperti diriku, dan tak ada beza di antara kita.

Kusimpan apa yang kukatakan dalam diriku ini dalam kata-kata yang kudengar dalam heningku,

Dan engkau jagalah apa yang ada di dalam dirimu, dan engkau adalah penjaga yang sama baiknya seperti yang kukatakan ini.

~ Kahlil Gibran ~

Kehidupan

Engkau dibisiki bahwa hidup adalah kegelapan

Dan dengan penuh ketakutan

Engkau sebarkan apa yang telah dituturkan padamu

penuh kebimbangan

Kuwartakan padamu bahawa hidup

adalah kegelapan

jika tidak diselimuti oleh kehendak

Dan segala kehendak akan buta bila tidak diselimuti pengetahuan

Dan segala macam pengetahuan akan kosong

bila tidak diiringi kerja

Dan segala kerja hanyalah kehampaan

kecuali disertai cinta

Maka bila engkau bekerja dengan cinta

Engkau sesungguhnya tengah

menambatkan dirimu

Dengan wujudnya kamu, wujud manusia lain

Dan wujud Tuhan.

~ Kahlil Gibran ~

Advertisements

Read Full Post »

Cinta

Mereka berkata tentang serigala dan tikus

Minum di sungai yang sama

Di mana singa melepas dahaga

Mereka berkata tentang helang dan hering

Menjunam paruhnya ke dalam bangkai yg sama

Dan berdamai – di antara satu sama lain,

Dalam kehadiran bangkai – bangkai mati itu

Oh Cinta, yang tangan lembutnya

mengekang keinginanku

Meluapkan rasa lapar dan dahaga

akan maruah dan kebanggaan,

Jangan biarkan nafsu kuat terus menggangguku

Memakan roti dan meminum anggur

Menggoda diriku yang lemah ini

Biarkan rasa lapar menggigitku,

Biarkan rasa haus membakarku,

Biarkan aku mati dan binasa,

Sebelum kuangkat tanganku

Untuk cangkir yang tidak kau isi,

Dan mangkuk yang tidak kau berkati

~ Kahlil Gibran ~

(Dari ‘The Forerunner)

Cinta

Kemarin aku berdiri berdekatan pintu gerbang sebuah rumah ibadat dan bertanya kepada manusia yang lalu-lalang di situ tentang misteri dan kesucian cinta.

Seorang lelaki setengah baya menghampiri, tubuhnya rapuh wajahnya gelap. Sambil mengeluh dia berkata, “Cinta telah membuat suatu kekuatan menjadi lemah, aku mewarisinya dari Manusia Pertama.”

Seorang pemuda dengan tubuh kuat dan besar menghampiri. Dengan suara bagai menyanyi dia berkata, “Cinta adalah sebuah ketetapan hati yang ditumbuhkan dariku, yang rnenghubungkan masa sekarang dengan generasi masa lalu dan generasi yang akan datang.’

Seorang wanita dengan wajah melankolis menghampiri dan sambil mendesah, dia berkata, ‘Cinta adalah racun pembunuh, ular hitam berbisa yang menderita di neraka, terbang melayang dan berputar-putar menembusi langit sampai ia jatuh tertutup embun, ia hanya akan diminum oleh roh-roh yang haus. Kemudian mereka akan mabuk untuk beberapa saat, diam selama satu tahun dan mati untuk selamanya.’

Seorang gadis dengan pipi kemerahan menghampiri dan dengan tersenyum dia berkata, “Cinta itu laksana air pancuran yang digunakan roh pengantin sebagai siraman ke dalam roh orang-orang yg kuat, membuat mereka bangkit dalam doa di antara bintang-bintang di malam hari dan senandung pujian di depan matahari di siang hari.’

Setelah itu seorang lelaki menghampiri. Bajunya hitam, janggutnya panjang dengan dahi berkerut, dia berkata, “Cinta adalah ketidakpedulian yang buta. la bermula dari hujung masa muda dan berakhir pada pangkal masa muda.’

Seorang lelaki tampan dengan wajah bersinar dan dengan bahagia berkata, ‘Cinta adalah pengetahuan syurgawi yang menyalakan mata kita. Ia menunjukkan segala sesuatu kepada kita seperti para dewa melihatnya.’

Seorang bermata buta menghampiri, sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke tanah dan dia kemudian berkata sambil menangis, ‘Cinta adalah kabus tebal yang menyelubungi gambaran sesuatu darinya atau yang membuatnya hanya melihat hantu dari nafsunya yang berkelana di antara batu karang, tuli terhadap suara-suara dari tangisnya sendiri yang bergema di lembah-lembah.’

Seorang pemuda, dengan membawa sebuah gitar menghampiri dan menyanyi, ‘Cinta adalah cahaya ghaib yang bersinar dari kedalaman kehidupan yang peka dan mencerahkan segala yang ada di sekitarnya. Engkau bisa melihat dunia bagai sebuah perarakan yang berjalan melewati padang rumput hijau. Kehidupan adalah bagai sebuah mimpi indah yang diangkat dari kesedaran dan kesedaran.’

Seorang lelaki dengan badan bongkok dan kakinya bengkok bagai potongan-potongan kain menghampiri. Dengan suara bergetar, dia berkata, “Cinta adalah istirahat panjang bagi raga di dalam kesunyian makam, kedamaian bagi jiwa dalam kedalaman keabadian.’

Seorang anak kecil berumur lima tahun menghampiri dan sambil tertawa dia berkata, “Cinta adalah ayahku, cinta adalah ibuku. Hanya ayah dan ibuku yang mengerti tentang cinta.”

Waktu terus berjalan. Manusia terus-menerus melewati rumah ibadat. Masing-masing mempunyai pandangannya tersendiri tentang cinta. Semua menyatakan harapan-harapannya dan mengungkapkan misteri-misteri kehidupannya.

~ Kahlil Gibran ~

Waktu

Dan seorang pakar astronomi berkata, “Guru, bagaimanakah perihal Waktu?”

Dan dia menjawab:

Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.

Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.

Suatu ketika kau ingin membuat anak sungai, di mana atas tebingnya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.

Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesedaran akan kehidupan nan abadi,

Dan mengetahui bahawa semalam hanyalah kenangan utk hari ini dan esok adalah harapan dan impian utk hari ini.

Dan yang menyanyi dan merenung dari dalam jiwa, sentiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.

Siapa di antara kalian yang tidak merasa bahawa daya mencintainya tiada batasnya?

Dan siapa pula yang tidak merasa bahawa cinta sejati, walau tiada batas, terkandung di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari fikiran cinta ke fikiran cinta, pun bukan dari tindakan cinta ke tindakan cinta yang lain?

Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbahagi dan tiada kenal ruang?

Tapi jika di dalam fikiranmu baru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkumi semua musim yang lain,

Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.

~ Kahlil Gibran ~Dari Petikan Sang Nabi (The Prophet)

PERENGGAN 12

Seorang ahli hukum menyusul bertanya;

Dan bagaimana tentang undang-undang kita?

Dijawabnya;

Kalian senang meletakkan perundangan,

namun lebih senang lagi melakukan perlanggaran,

Bagaikan kanak-kanak yang asyik bermain di tepi pantai,

yang penuh kesungguhan menyusun pasir jadi menara,

kemudian menghancurkannya sendiri,

sambil gelak tertawa ria.

Tapi,

selama kau sedang sibuk menyusun menara pasirmu,

sang laut menghantarkan lebih banyak lagi pasir ke tepi,

Dan pada ketika kau menghancurkan menara buatanmu,

sang laut pun turut tertawa bersamamu.

Sesungguhnya,

samudera sentiasa ikut tertawa,

bersama mereka yang tanpa dosa.

Tapi bagaimanakah mereka,

yang menganggap kehidupan bukan sebagai samudera,

dan melihat undang-undang buatannya sendiri,

bukan ibarat menara pasir?

Merekalah yang memandang kehidupan,

laksana sebungkal batu karang,

dan undang-undang menjadi pahatnya,

untuk memberinya bentuk ukiran,

menurut selera manusia,

sesuai hasrat kemahuan.

Bagaimana dia,

si tempang yang membenci para penari?

Bagaimana pula kerbau yang menyukai bebannya,

dam mencemuh kijang,

menamakannya haiwan liar tiada guna?

Lalu betapa ular tua,

yang tak dapat lagi menukar kulitnya,

dan kerana itu menyebut ular lain sebagai telanjang,

tak kenal susila?

Ada lagi dia,

yang pagi- pagi mendatangi pesta,

suatu keramaian perkahwinan,

kemudian setelah kenyang perutnya,

dengan badan keletihan,

meninggalkan keramaian dengan umpatan,

menyatakan semua pesta sebagai suatu kesalahan,

dan semua terlibat melakukan kesalahan belaka.

Apalah yang kukatakan tentang mereka,

kecuali bahawa memang mereka berdiri di bawah sinar mentari,

namun berpaling wajah, dan punggung mereka membelakangi?

Mereka hanya melihat bayangannya sendiri,

dan bayangan itulah menjadi undang-undangnya.

Apakah arti sang suria bagi mereka,

selain sebuah pelempar bayangan?

Dan apakah kepatuhan hukum baginya,

selain terbongkok dan melata di atas tanah,

mencari dan menyelusuri bayangan sendiri?

Tapi kau,

yang berjalan menghadapkan wajah ke arah mentari,

bayangan apa di atas tanah,

yang dapat menahanmu?

Kau yang mengembara di atas angin,

kincir mana yang mampu memerintahkan arah perjalananmu,

hukum mana yang mengikatmu,

bila kau patahkan pikulanmu,

tanpa memukulnya pada pintu penjara orang lain?

Hukum apa yang kau takuti,

jikalau kau menari-nari,

tanpa kakimu tersadung belenggu orang lain?

Dan siapakah dia yang menuntutmu,

bila kau mencampakkan pakaianmu,

tanpa melemparkannya di jalan orang lain?

Rakyat Orphalese,

kalian mungkin mampu memukul gendang,

dan kalian dapat melonggarkan tali kecapi,

namun katakan,

siapakah yang dapat menghalangi,

burung pipit untuk menyanyi.

PERENGGAN 13

Seorang ahli pidato maju ke depan;

bertanyakan masalah kebebasan.

Dia mendapat jawapan;

Telah kusaksikan,

di gerbang kota maupun dekat tungku perapian,

dikau bertekuk lutut memuja Sang Kebebasan.

Laksana hamba budak merendahkan diri di depan sang tuan,

si zalim yang disanjung puja,

walaupun dia hendak menikam.

Ya, sampai pun di relung-relung candi,

dan keteduhan pusat kota,

kulihat yang paling bebas pun diantara kalian,

mengendong kebebasannya laksana pikulan,

mengenakannya seperti besi pembelenggu tangan.

Hatiku menitikkan darah dalam dada,

kerana kutahu,

bahawa kau hanya dapat bebas sepenuhnya,

pabila kau dapat menyedari;

bahawa keinginan untuk kebebasan pun,

merupakan sebentuk belenggu jiwamu.

Hanya jikalau kau pada akhirnya,

berhenti bicara tentang Kebebasan,

sebagai suatu tujuan dan sebuah hasil perbincangan,

maka kau akan bebas,

bila hari-hari tiada kosong dari beban fikiran,

dan malam-malammu tiada sepi dari kekurangan dan kesedihan.

Bahkan justeru Kebebasanmu berada dalam rangkuman beban hidup ini,

tetapi yang berhasil engkau atasi,

dan jaya kau tegak menjulang tinggi,

sempurna, terlepas segala tali-temali.

Dan bagaimana kau kan bangkit,

mengatasi hari dan malammu,

pabila kau tak mematahkan belenggu ikatan,

yang di pagi pengalamanmu,

telah engkau kaitkan pada ketinggian tengah harimu?

Sesungguhnyalah,

apa yang kau namai Kebebasan,

tak lain dari mata terkuat diantara mata rantai belenggumu,

walau kilaunya gemerlap cemerlang di sinar suria,

serta menyilaukan pandang matamu.

Dan sedarkah engkau,

apa yang akan kau lepaskan itu?

tiada lain adalah cebisan dari dirimu,

jikalau kau hendak mencapai kebebasan yang kau rindu.

Pabila yang akan kau buang itu,

suatu hukum yang tak adil,

akuilah bahwa dia telah kau tulis dengan tanganmu sendiri,

serta kau pahatkan diatas permukaan keningmu.

Mustahil kau akan menghapusnya,

dengan hanya membakar kitab-kitab hukummu,

tak mungkin pula dengan cara membasuh kening para hakimmu,

walau air seluruh lautan kaucurahkan untuk itu.

Pabila seorang zalim yang hendak kau tumbangkan,

usahakanlah dahulu,

agar kursi tahtanya yang kau tegakkan di hatimu,

kau cabut akarnya sebelum itu.

Sebab bagaimanakah seorang zalim,

dapat memerintah orang bebas dan punya harga diri,

jika bukan engkau sendiri membiarkannya,

menodai kebebasan yang kaujunjung tinggi,

mencorengkan arang pada harkat martabat kemanusiaanmu peribadi?

Pabila suatu beban kesusahan yang hendak kautanggalkan,

maka ingatlah bahwa beban itu telah pernah menjadi pilihanmu,

bukannya telah dipaksakan diatas pundakmu.

Bilamana ketakutan yang ingin kau hilangkan,

maka perasaan ngeri itu bersarang di hatimu,

bukannya berada pada dia yang kau takuti.

Sebenarnyalah, segalanya itu bergetar dalam diri,

dalam rangkulan setengah terkatup, yang abadi;

antara;

yang kauinginkan dan yang kau takuti,

yang memuakkan dan yang kausanjung puji,

yang kaukejar-kejar dan yang hendak kau tinggal pergi.

Kesemuanya itu hadir dalam dirimu selalu,

bagaikan Sinar dan Bayangan,

dalam pasangan-pasangan,

yang lestari berpelukan.

Dan pabila sang bayangan menjadi kabur, melenyap hilang,

maka sinar yang tinggal, wujudlah bayangan baru,

bagi sinar yang lain;

demikianlah selalu.

Seperti itulah pekerti Kebebasan,

pabila ia kehilangan pengikatnya yang lama,

maka ia sendirilah menjadi pengikat baru,

bagi Kebebasan yang lebih agung,

sentiasa.

~ Kahlil Gibran ~

Read Full Post »

Bila cinta memanggilmu, turutilah bersamanya

Kendati jalan yang mesti engkau sangat keras dan terjal

Ketika sayap-sayapnya merangkulmu, maka berserah dirilah padanya

Sekalipun pedang-pedang yang bersemayam di balik sayap-sayap itu barangkali akan melukaimu

(more…)

Read Full Post »

<>Kahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di Beshari, Lebanon. Beshari sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.

Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Bairut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat (School of Wisdom) sejak tahun 1898 sampai 1901.

(more…)

Read Full Post »