Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘joki’

Jakarta-Menit bergerak cepat memburu angka tepat pada 16.30 WIB. Serombongan orang segala usia, segala kelamin, berdiri menepi menghadap kearah yang sama, pada jarak yang sama yaitu kira-kira 2 meter antara 1 sama lainnya. Itulah Joki 3 in 1 di Jakarta. Itulah dampak dari KEPUTUSAN GUBERNUR PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 4104 / 2003 TENTANG PENETAPAN KAWASAN PENGENDALIAN LALU LINTAS DAN KEWAJIBAN MENGANGKUT PALING SEDIKIT 3 ORANG PENUMPANG PER KENDARAAN PADA RUAS-RUAS JALAN TERTENTU DI PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA. Tidak dipungkiri lagi, bahwa ini adalah para Joki 3 in 1 yang biasa mangkal dipinggir jalan protokol Ibukota pada jam berlakunya 3 in 1 (07.30-10.00 dan 16.30-19.00). Fenomena ini sejalan dengan lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan angkatan kerja, kenaikan barang-barang pokok tak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh, jumlah penduduk yang melebihi kapasitas, dan membuat Jakarta ini semakin padat dan letih menanggung beban segala macam persoalan masyarakat. Makin banyaknya peraturan yang menyulitkan pengendara mobil ini membawa akibat pada merosotnya tingkat kedisiplinan di jalan, toleransi pada sesama pengendara, dan lain-lain yang diyakini atau tidak sudah bertolak belakang dengan tujuan dikeluarkannya peraturan untuk mengurangi kemacetan Ibukota yang sudah makin renta ini. Ironis dan menyedihkan.

Joki 3 in 1 sebagai masalah atau solusi?

Tak tahu sampai kapan Joki 3 in 1 ini terus beroperasi. Apakah kondisi ini terus berjalan sambil menunggu munculnya penghapusan semua angkutan bermotor sehingga Jakarta hanya ada pejalan kaki atau fenomena ini takkan pernah berakhir selamanya, dan akhirnya nanti jalan-jalan protokol Jakarta akan makin macet karena makin banyaknya orang berebut berdiri di pinggir jalan untuk menjadi joki 3 in 1? Hidup di Jakarta memang sebuah tantangan sampai maut menjemput individu per individu, dan digantikan dengan generasi yang sudah tercipta dan terdidik menjadi atlit lompat tinggi dan berburu. Sehingga cenderung meraih eksistensi setinggi-tingginya dengan segala trik untuk memakan sesama.

Fenomena Joki 3 in 1 sebenarnya adalah fakta, tapi apakah ini yang disebut pembukaan lapangan kerja atau profesi baru? Sebagai Joki 3 in 1. Bisa dijawab iya oleh sebagian masyarakat, bisa juga tidak oleh Menteri Tenaga Kerja. Karena profesi ini dianggap ilegal. Tapi jangan salah ratusan bahkan ribuan profesi ilegal bertebaran dijakarta bahkan di seluruh Indonesia. Mulai dari tukang parkir liar, sampai preman, bahkan sampai calo yang biasa bersandar ditembok sebuah Pengadilan untuk melancarkan proses kasus perorangan. Cukup ironis bila kita bisa mau melihat dengan mata hati yang jernih. Tapi sayang rupanya banyak perangkat atau anggota masyarakat yang lebih baik membutakan hati, daripada harus mencari solusi untuk mengatasi problem lapangan kerja yang berujung pada penyakit masyarakat. Alhasil, tidak ada yang perduli. Gerakan Disiplin Nasional atau Kepedulian Nasional hanya menjadi slogan dan order untuk para penyedia jasa pembuatan Banner atau Spanduk. Semua hanya seremonial yang berujung pemberian penghargaan dan tepuk tangan. Setelah itu?….sepi tak ada yang peduli lagi dengan orang-orang dibawah Jalan layang, Joki 3 in 1 yang makin hari makin berjubel melebihi jumlah mobil yang lewat, dan hal lain yang semakin kompleks dan melelahkan untuk dipikirkan.

Kota ini seperti kehilangan orientasi. Karena tak tahu arah pembangunan mau kemana. Seperti yang baru kita peringati tanggal 20 Mei 2008 sebagai hari Kebangkitan Nasional. Pertanyaannya adalah Bangkit dari apa? Bangsa Indonesia kini bukan lagi bangsa terjajah. Sehingga Kebangkitan ini masih tanda tanya. Bangkit dari moralitas rendah? Dari kebodohan? dari kemiskinan? Dari maraknya korupsi? Atau dari apa? Inilah yang menyebabkan saat ini semua bergulir apa adanya tanpa orientasi yang jelas. Hal ini tercermin pada Jakarta sebagai Ibukota negara ini. Akan menjadi Ibukota Negara? Atau sekalian pusat bisnis, ataukah hutan rimba? Yang didalamnya lengkap dengan segala profesi, dari mulai Ustad, sampai dengan pemakan manusia?…Tapi apa yang bisa diperbuat…sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sekolah saja, si Udin harus menyempatkan diri menjadi Joki 3 in 1 seusai jam sekolah selesai. Atau mungkin disaat teman sekolahnya yang ditakdirkan sebagai orang ”mampu” sedangkan jalan-jalan di Mall, sedangkan Udin harus berdiri melambai-lambaikan tangan mengharap untuk dapat order sebagai Joki dengan imbalan Rp 10.000,- sekali jalan. Ah…rupanya permasalahan ini tak kunjung usai, dan tak akan ada yang bisa menyelesaikannya, karena terlalu banyak permasalahan di kota ini tanpa tahu ini sebenarnya tanggung jawab siapa. Peraturan hanya peraturan, pelanggaran hanyalah pelanggaran dengan jalan damai tanpa bisa mendidik masyarakat ini menjadi tertib dan disiplin. Mungkin tidak semua, tapi rupanya yang disiplin pun ikut menjadi tidak disiplin karena banyak temannya…Akhirnya dengan berlalunya waktu, semua seperti tidak terjadi apa-apa…entah pendapatan ini halal atau haram, yang penting menghasilkan uang…Ironis dan dilematis memang.

Read Full Post »