Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘cerita’

Ketika matahari belum surut ke peraduan, Mak Ipah masih sibuk melayani pembeli yang mampir di “kedai nomaden”-nya. Kenapa nomaden? “Karena sewaktu-waktu petugas trantib dating dan tanpa nego lagi langsung saja angkut ini gerobak mie, dan semua perangkat yang ada. Berat mempertahankan hidup dan berharap pada kearifan penguasa jalanan setempat hanya untuk berdagang kecil-kecilan.

Mungkin ini satu dari ribuan bahkan jutaan pedagang yang notabene juga seorang ibu yang tugasnya tidak hanya diluar, tapi juga dirumah membesarkan anak-anak. Sosok yang mustinya kita lihat sebagai teladan karena dia mau juga sebagai tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah…

Inikah scenario hidup yang dia mau? Ini kah yang dulu di cita-citakan? Tidak ada seorangpun berharap punya dagangan kecil-kecilan. Kalo boleh berucap, semua akan berharap menjadi konglomerat kaya, dengan agenda pesta makan malam di Ritz Calton, atau tempat mewah lainnya… Tapi bukan itu sebenarnya tujuan hidup…

Ini hanya penggalan cerita yang harusnya membuat diri kita, dan keluarga kita bersyukur atas apa yang didapat saat ini. Don’t look up your head…tapi lihatlah kebawah…agar rasa syukur masih terbersit dalam benak yang sudah kotor dan gelap oleh gemerlap kota…

Mak Ipah hampir tiap hari berdagang disini, dan berkucing-kucingan dengan jadwal ronda para petugas trantib. Hanya untuk Rp 3.000,- / mangkok, Mak Ipah berjuang melawan polusi yang merongrong paru-parunya setiap hari. Kemana suaminya? Tak perlu ada jawaban, karena yang menjawab adalah suara derit gerobak yang didorong pulang ke rumah..

Sepenggal fenomena yang patut kita renungi, diantara gemerlap dan gelak tawa yang ada disekeliling kita…penggalan fakta yang harusnya tidak membuat orang menjadi buta dan selalu merasa kurang dengan apa yang didapat. Peluh keringat yang ada tidak hanya milik Mak Ipah, tapi juga milik ribuan bahkan jutaan pedagang kecil yang meraup rejeki dipinggiran jalan, berharap orang untuk singgah sebentar mencicipi dan melegakan lapar perutnya…

Perjalanan masih terasa melelahkan tanpa keikhlasan dan dorongan batin yang kuat untuk bertahan hidup, apalagi dikota besar, dan dijaman sekarang yang semua serba hedon, serba metropolis, serba ego, dan serba neo. Mak Ipah adalah satu dari potret pelajaran yang dapat menjadi teladan bagi hidup dan kehidupan, bagaimana bertahan hidup untuk tetap hidup, bagaimana memanfaatkan dan mensyukuri segala rahmat Allh SWT…

Bandung – 12 Mei 2008 – 16.35

Advertisements

Read Full Post »

—————————–

Malam itu…diantara segala bintang yang bertabur, diantara segala angan yang terbang mengelilingi gugusan mimpi dan derik nafas yang tak beraturan…segala kepongahan yang bertengger didadanya…diantara segala kebencian yang meraup menjadi satu dalam dendam yang tak berbentuk…Sang Murai menatap lesu menanti datangnya pagi…mata terkulai tanpa bisa terpejam…memerah, meratap beku pada sebuah sudut yang gelap…meratap pada hembusan angin yang mengering…berharap malam ini jangan berakhir…

Ketika pagi menjelang, tak pelak lagi matahari dengan matanya yang tajam menghangatkan sekujur sayapnya dan ekornya yang memanjang indah…Hanya sorot mata sang Murai tetap terlihat dingin dan pucat…menatap langit dan semua dedaunan cemara, memandang semua pahit getir masa lalunya yang mengharuskan dia untuk pergi jauh….Harapnya hanya satu, agar dia tetap dapat hidup melanjutkan penggalan waktu yang telah terbuang sia-sia tanpa dia dapat meraih apa yang seharusnya diraih dalam dekapan mimpi yang hangat selama ini….

Detik waktu tetap berjalan tanpa ada satu kekuatanpun yang dapat menghentikan kecuali kekuatan Illahi…Sang Murai akhirnya harus tetap pergi jauh…meninggalkan segala cerita yang telah tertulis…meninggalkan segala uraian dan untaian imajinasi yang membawanya pada jurang gelap…

Read Full Post »