Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘travelling Batu Mulia’ Category

Madrid-Spanyol.Mungkin tak pernah terpikir bahwa suatu saat kita akan dapat mengunjungi Negara orang let’s see di belahan benua terjauh dari benua Asia (yaitu Benua Eropa). Kota Madrid yang berdiri pada 1561 diakui oleh Philip II sebagai ibukota negara Spanyol. Sejak jaman dulu dipercaya bahwa Madrid ditemukan oleh Ocnus, Raja Roman yang juga merupakan salah satu anak dewa. Madrid adalah salah satu saksi bisu kehadiran budaya Islam yang akhirnya tergeser oleh invasi Kristen pada awal abad 10. Sembilan kemudian tepatnya pada Abad 19 dimulai dengan adanya invasi bangsa Perancis ke beberapa negara di Eropa termasuk Madrid. Hal ini menyebabkan sepertiga dari kegiatan perkembangan kota Madrid terpaksa terhenti. Para kaum borjuis mulai ikut andil dalam perkembangan kota Madrid. Mereka mulai mengambil alih beberapa properti dan mengembangkannya sesuai keinginan mereka. Namun di lain pihak, kejadian tersebut justru menguntungkan kota Madrid dalam hal perkembangan kota. Banyak jalur dan jalan-jalan baru mulai dibangun, sebagai fasilitas umum. Selain itu alun-alun di beberapa titik kota juga dibangun sesuai perencanaan kota diimbangi dengan penyediaan perumahan, bangunan-bangunan fasilitas umum untuk mencapai kebutuhan penduduk yang terus berkembang. Bangunan fasilitas umum tersebut diantaranya adalah bangunan the Congress, the Senate House, the Stock Exchange, the National Library, the Bank of Spain, yang kesemuanya terdapat di pusat kota Madrid dan dimaksudkan untuk mendukung aktifitas kota sehari-hari.

Terlepas dari apapun konflik apapun yang mengiringi perjalanan umat manusia di Spanyol, Kota Madrid adalah kota yang sangat Indah dengan bangunan-bangunan tua peninggalan pemerintahan Philip II (Abad 10), serta bangunan dari the Castro Plan yang dibangun th 1860 yang membawa Madrid sehingga dikenal dengan 3 daerah lingkupan, yaitu kota tuanya, perkembangan baru, dan daerah pinggirannya. Dari keseluruhan perkembangan kota Madrid dalam abad 19, dapat ditelusuri bahwa pembentukan kota secara menyeluruh dan pembangunan istana-istana di lingkungan pusat kota dilaksanakan oleh kaum borjuis yang datang ke Madrid. Bentuk-bentuk arsitektural yang disajikan merupakan bentuk ekletik yang mengutamakan citra dan rasa individual para pendatang tersebut.

Sebagai contoh di dalam distrik baru yaitu Salamanca dan Arguelles dimana pengembangannya dilaksanakan oleh Salamanda dan Pozas, serta distrik-distrik di daerah Las Salesas, Los Jeronimos dan Recoletas, dimana para kaum borjuis di Madrid menemukan untuk pertama kalinya daerah permukiman bagi mereka. Mulai dari daerah inilah berkembang masyarakat menengah ke atas dimana mereka tergolong kelas pekerja yang lingkungannya hanya mencakup daerah tempat tinggal mereka dan pusat kota Madrid. Sementara itu agak menepi, terdapat daerah permukiman masyarakat menengah bawah yang juga tergolong masyarakat miskin. Di daerah ini hunian merupakan tipikal corralas, yaitu hunian yang mengelilingi sebuah patio atau halaman kecil.

Perkembangan Madrid baru

Sejak tahun 1960, ketika penduduk Madrid sudak mencapat 2 juta orang, dengan perencanaan stabilisasi, Madrid memasuki periode perkembangan yang dimaksudkan untuk membuat kota tidak dapat dijamah oleh kendaraan. Jalur bulevard dihilangkan, flyovers dan parkir kendaraan bawah tanah mulai dibangun dibeberapa titik pusat kota. Sampai akhirnya, pada dekade berikutnya, karakter kota berubah dengan menjadikan Madrid lebih layak huni bagi penduduknya. Daerah-daerah distrik mulai dikenalkan, rencana khusus yang bertujuan untuk melindungi warisan arsitektur kota digulirkan, sirkulasi kendaraan di pusat kota dibatasi dan transportasi umum ditingkatkan. Aplikasi dari perkembangan kota Madrid ini nyatanya berhasil dan menjadikannya kota paling indah dan nyaman untuk dikunjungi di negara Eropa. Dimana telusuran arsitektur bersejarah kota dengan jalan-jalan baru dan modern avenue tersajikan secara harmonis. Saat tiba pertama kali di pusat kota Madrid, kesan pertama yang akan diterima pengunjung adalah bahwa kota ini penuh kesibukan dan aktifitas. Namun tidak dapat ditinggalkan disini bahwa pengalaman yang sangat menakjubkan dari kota Madrid adalah dengan memiliki kesempatan menelusuri sepanjang jalan pusat kota Madrid.

Berikut dibangunnya Bandara Internasional Barajas adalah bandara yang terdapat di Madrid dan merupakan pusat dari Iberia Airlines. Bandara tersebut menjadi pintu gerbang utama ke Semenanjung Iberoa dari Eropa, Amerika, dan belahan dunia lain dengan arus penumpang sebesar 40 juta orang per tahun. Juga Stasiun kereta api utama di Madrid adalah Atocha dan Chamartin. Fokus utama pembangunan infrastruktur di Spanyol adalah sebuah jaringan rel kecepatan tinggi, Alta Velocidad Española (AVE) dengan tujuan membuat kota-kota penting berjarak maksimal hanya 4 jam dari Madrid dan 6 jam dari Barcelona. Kota-kota yang terhubung dengan stasiun Atocha dalam jaringan ini antara lain Seville, Toledo, Zaragoza, dan Lleida. Barcelona dan Malaga akan terhubung pada 2007.

Batu Mulia Indonesia nampang di Madrid

Rupanya Batu Mulia dari Indonesia juga sempat mampir juga dalam event yang diselenggarakan tahunan ini. KBRI Madrid bekerjasama dengan Mutumanikam Nusantara dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, menggelar pameran perhiasan dan produk budaya Indonesia, bertempat di KBRI Madrid, Calle Agastia No 65. Sejumlah besar koleksi perhiasan mutumanikam akan dipamerkan dalam pameran ini seperti gelang, cincin, kalung, anting-anting, bros dan perhiasan lainnya. Satu andalan yang dipamerkan adalah koleksi mutiara yang berkualitas. Koleksi mutiara ini dibuat oleh para pengrajin Indonesia dengan disain yang disesuaikan dengan selera internasional. Selain mutiara, Indonesia sendiri memiliki kekayaan melimpah ruah batu-batu mulia termasuk mutiara dengan lokasi budidaya mutiara seperti di kepulauan Maluku dan Lombok. Batu Mulia yang ditampilkan diantaranya Batu Safir, Baca, Kecubung, Kalimaya Banten, dan beberapa akik seperti Sulaiman, Yaman, dan lain-lainnya. Batu Mulia dari Indonesia menjadi perhatian tersendiri dari para pengunjung yang kagum akan keindahan bebatuan yang berasal dari Indonesia….Hiduplah bangsaku hiduplah negeriku Jayalah Indonesiaku….

Read Full Post »

Pedagang akik di tengah kota Jogja

Jogjakarta. Berjalan atau berkunjung ke kota Jogjakarta memang kurang lengkap kalau tidak merasakan Gudeg plengkung atau belum beli oleh-oleh bakpia pathok 75. Tapi alangkah lebih tidak lengkapnya lagi bagi penulis adalah bila belum berkunjung dimana para pedagang akik berada hehehe

Setelah berjalan kaki sekitar 30 menit menyusuri jalanan Malioboro yang penuh dengan para turis domestik, akhirnya penulis menjumpai perempatan besar menuju Alun-alun utara kota Jogja. Persis di sebelah Benteng Vredenburg kita menjumpai deretan para pedagang akik, tepat berseberangan dengan gedung Kantor Pos besar Jojakarta. Unik memang, dan tidak biasa para pedagang akik memiliki tempat berjualan dipusat kota. Biasanya para pedagang akik begini menjadi kelompok marginal yang dipinggirkan pemerintah setempat. Tengoklah di Jakarta, Surabaya, dan kota lainnya.

Tapi khusus di Jogja ini rupanya para pedagang akik disini dapat bernafas lega karena mendapatkan angin segar dengan diijinkan menempati tempat di jalan protocol dan disebelah tempat wisata tengah kota. Luar Biasa. Hidup Sri Sultan Ngayogyakarta!!!

Kira-kira ada sekitar 10 pedagang akik disini, yang rata-rata berasal dari Madura (Bangkalan, Sampang, Sumenep, Kamal). Tidak hanya batu Mulia dan batu Akik yang mereka tawarkan, mereka juga menawarkan ikat (ring) akik, dan tasbeh, serta sebagiann menawarkan benda-benda bertuah seperti keris, pring pethuk, geliga kelapa, graham macan, dan sebagainya. Dari jenis dan kualitas Batu Mulia atau akik yang ditawarkan memang untuk segmentasi kelas menengah keatas. Kecenderungan sasaran pasar mereka adalah menengah ke bawah. Hal ini disebabkan peminat batu di jogja yang datang ke stand mereka tidak mencari batu Mulia yang harganya cukup mahal, tapi umumnya mencari batu akik yang harganya 10 ribuan hingga 20 ribuan. Jarang disini ditemukan Batu Mulia dengan kualitas wahid. Kalaupun ada yang kualitasnya sekedarnya saja. Batu Mulia yang ditawarkan disini dengan kualitas alakadarnya adalah safir burma, Topas (sintetis), Mirah Siam, Ruby, dan lain-lain. Yang paling banyak ditawarkan adalah dari golongan batu akik, seperti pirus, tapak jalak, sulaeman, wulung, pancawarna, dan lainnya. Pasokan barang dagangan mereka biasanya didapat dari pedagang martapura, atau dari Jakarta yang datang ke Jogja dengan membawa batu borongan yang cukup banyak dan murah. Jadi mereka dipasok tanpa harus lelah-lelah berkulak batu ke Jakarta yang terkenal padat macet, panas, kanibal, serta macet.

Tak lelah melihat-lihat dan berbincang dengan para pedagang, penulis dapat menyimpulkan harga rata-rata batu yang ditawarkan adalah antara Rp 25.000 – Rp 75.000 untuk yang masuk golongan batu Mulia (walau sebagian yang ditawarkan adalah batu Sintetis). Tapi untuk yang batu akik kisaran harga mulai Rp 10.000 – Rp 50.000 tanpa melihat kualitas bagus atau tidak. Dilihat dari sizing omzet yang didapat perhari, terlihat bahwa sebenarnya mereka ini termasuk golongan pedagang yang tetap eksis menggerakkan mikro ekonomi dikalangan rakyat menengah ke bawah yang sebetulnya memiliki prospek yang cukup lumayan ke depan. Tinggal saja perhatian dari pemerintah kota sejauh mana untuk membantu mereka lebih kencang lagi berlari.

Angkringan sebagai Ikon Kota Jogja

Setelah berjalan dan melihat-lihat dagangan batu akik, penulis berjalan balik arah menuju salah satu sudut Malioboro yang sempat menjadi garis demarkasi penarikan pasukan belanda saat serangan Jogja tahun 1949 (samping Hotel Garuda Malioboro). Tepat 5 meter disebelah prasasti itu berdiri Angkringan (nama khas sebutan untuk pedagang makanan). Angkringan di Jogja sudah bukan lagi sesuatu yang aneh atau unik. Mungkin sejak jaman revolusi fisik sudah ada yang namanya Angkringan. Dan ternyata konsep Angkringan ini sudah merambah sampai kekota-kota lain seperti Jakarta, Bandung, Magelang, Klaten, dan kota lain. Entah siapa yang mencetuskan nama atau ide konsep angkringan ini, sampai sekarang tak satupun orang tahu.

Yang jelas konsep ini sudah banyak membantu menggerakkan ekonomi rakyat yang tak pernah diperhatikan oleh pemerintah. Terseok dan akhir tetap bangkit dan berjalan walau tertetaih-tatih. Itulah Angkringan.

Disalah satu Angkringan sudut kota ini penulis melepas lelah dan penat hidup yang menggelayut di pundak. Sembari menikmati sebatang rokok, penulis memesan 1 gelas teh hangat, dan mengambil 1 bungkusan nasi kecil yang biasa disebut nasi kucing (karena ukurannya yang cukup kecil). Setelah dibuka, lauk yang tersedia cukup 1 jenis (biasanya oseng-oseng atau kering tempe).

Menikmati indahnya mentari sore di Malioboro sambil melihat-lihat orang-kendaraan yang sibuk lalu lalang meramaikan suasana Malioboro, penulis mulai menikmati nasi kucing yang sudah berada dihidangkan. Cukup 5 suapan, rupanya nasi sebungkus telah habis hehehe namanya juga nasi kucing. Tapi jangan salah. Bukan berari Angkringan adalah komoditi rakyat jelata…tapi banyak juga Angkringan yang sudah lengkap dengan fasilitas Hot-Spot dengan gratis Wi-fi. Jadi rupanya ini adalah sebagian dari upaya untuk diversifikasi layanan untuk meraih segmentasi yang lebih tinggi. Harga makanan yang ditawarkan di Angkringan ini sangat murah sekali, dengan nasi sebungkus, 1 sate usus, 2 gorengan, dan segelas teh manis, penulis cukup membayar Rp 4.000,- !!! Murah, perutpun kenyang.

Terlepas dari murah atau tidaknya harga sebuah barang, kita perlu acungkan jempol dan angkat topi untuk para pedagang Angkringan yang rela mengambil untung alakadarnya sehingga sebagian rakyat ini masih bisa menikmati kebutuhan pokok yaitu makan dengan harga yang sangat terjangkau. Salut untuk para pedagang Angkring yang tetap setia melestarikan serta membentuk hukum pasar yang stabil terkait dengan harga yang saat ini menjadi isu sensitif bagi rakyat. Hidup Jogjakarta, Hidup Kraton Ngayogyakarta. Salam kepada para pecinta Batu Mulia, Batu Akik, dan pecinta Rakyat!!!

Read Full Post »

Bandung Beautiful Euy – Masjid Agung Bandung bukan lagi tempat yang asing bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Setiap hari, masjid Agung Bandung tak pernah ssepi dari pengunjung, apalagi pas libur sekolah tiba. Letak Masjid Agung Bandung yang berada di tengah-tengah kegiatan komersial yang amat padat, merupakan ciri utama yang dimiliki Masjid Agung bandung. Di tengah hiruk-pikuk kawasan perbelanjaan atau `shopping`, perkantoran, perbankan, hiburan, dan segala macam bisnis lainnya termasuk tempat berjubelnya kaki lima yang merampas hampir seluruh trotoar pejalan kaki, masjid agung berada di sana. Tidak hanya itu, teras Masjid Agung dan halaman rumputnya menjadi tempat pengunjung untuk melepas lelah, ada yang sekedar duduk, atau tidur disana. Interaksi ini menjadi semacam rantai simbiosis mutualisme yang tak dapat lepas. Dimana para penjual dan pengunjung sama-sama membutuhkan sesuai hukum pasar yang berlaku.

Waktu terus berjalan, tanpa disadari, hari demi hari tampilan masjid semakin seperti tenggelam dalam lautan hiruk pikuk segala macam aktifitas tersebut di atas. Apalagi setelah dibangunnya pagar yang tinggi di depan/sebelah timur bangunan masjid, maka masjid agung seperti hendak menghindar dari tekanan-tekanan dari luar yang boleh jadi memang mengganggu. Faktor keamanan misalnya, memang suatu hal yang perlu diselesaikan. Keberadaan security Masjid seperti tidak berdaya ketika puluhan pedagang dengan gerobaknya seperti menjadi penghuni tetap dalam menjalankan usahanya.

Masjid Agung Bandung sepertinya perlu diintegrasikan keberadaan dengan lingkungan sekitarnya. Jadi tidak memisahkan diri atau malah meninggalkan lokasinya sekarang ini (dipindah).Yang berarti juga bahwa masjid harus diintegrasikan keberadaannya dengan hiruk-pikuknya aktifitas komersial. Tentu bukan berarti digabung, tetapi diintegrasikan secara serasi, harmoni dan seirama. Syiar-syiarnya juga harus lebih ditampakkan. Berarti pula bahwa ciri religius dalam ruang dan bentuk arsitektur serta ruang kotanya perlu lebih diekspresikan sehingga tampil menjadi sentral kawasan pusat kota khususnya dan Kota bandung pada umumnya.

Menurut sumber, dalam perjalanan sejarah yang hampir melampaui masa dua abad, Masjid Agung Bandung pernah mengalami `zaman keemasan` yakni ketika dipimpin oleh ulama yang juga sastrawan dan filosof Hoofd Penghulu Bandung Haji Hasan Mustafa.

Masjid Agung di tahun 1930-an tersebut paling menonjol fungsinya sebagai pusat ibadah dan sosial penduduk kota. Gaung kohkol dan bedugnya masih terdengar di seantero penjuru kota. Masjid menjadi tempat merayakan Mauludan, Rajaban, Shalat Ied dan belajar mengaji. Ia juga menjadi tempat baitul mal yang menerima zakat fitrah dan mengurusi kesejahteraan umat.

Setia sampai usia senja-Batu Akik di Masjid Agung Bandung

Pak Kosim, 79 th adalah salah satu pedagang, yang biasa menggelar dagangannya di pelataran utara masjid Agung Bandung. Dengan fisiknya yang mulai senja, lengkap dengan kacamata kuno, terselip sebatang rokok, dan Batu Akik Madu dijari manis tangan kanannya, Pak Kosim sabar menunggu dagangannya dilirik para pengunjung masjid. Deretan batu akik yang ditawarkan tidak banyak, hanya sekitar 20 biji yang sudah siap pakai (sudah diikat), dan sekitar 10 biji yang belum diikat. Kebanyakan akik yang digelar adalah Batu Akik dari keluarga Sulaeman dan Akik Badar, Seperti Sulaeman Mega, Sulaeman Wulung, tapi ada juga badar asem, badar bumi, badar lumut, Batu Wulung, dan sedikit batu permata seperti kecubung kecil. “Lamun ti Sulaeman teh aya 270 jenis cep” ujar pak Kosim sembari menghabiskan batang rokoknya yang sudah hampir habis. Setiap hari pak Kosim berangkat dari rumahnya di kawasan Pagarsih-Bandung menggunakan angkutan umum dan kembali pulang setelah sholat Ashar sekitar pukul 16.00 WIB.

Pak Kosim adalah salah satu dari sekian ribu masyarakat bandung yang masih terus bertahan hidup dengan segala kekuatan fisik yang dimiliki. Di usia yang sudah terbilang senja, 79 th, pak Kosim tetap sabar berikhtiar akan rejeki Allah SWT melalui usaha dagangnya dengan menawarkan batu Akik yang dimilikinya.

Ada keuntungan tersendiri bagi pak Kosim, karena di Masjid Agung hanya pak Kosimlah yang menawarkan Batu Akik. Kalau Tasbeh dan minyak sudah banyak pesaingnya. Penulis cukup tertegun dan sempat merenung, terbayang Ayahnya yang telah tiada di usia 72 th. Selisih 7 th dengan pak Kosim gumam penulis. Tapi karakter kehidupan serta semangat yang dimiliki pak Kosim mengingatkan pada Almarhum Ayahnda penulis yang telah kembali ke hadirat Illahi tahun lalu.

Sore telah menjelang, adzan sholat Ashar telah berkumandang. Tepat pukul 15.45 pak Kosim mulai membereskan dagangannya yang terdirik dari Batu Akik, Tasbeh, Filter rokok, dan sedikit minyak non alkohol. Tak terlihat kesedihan kesulitan hidup yang mungkin sudah menjadi teman sehari-hari baginya, tak terlintas dimatanya kelelahan akan menjalani setiap jengkal jalan untuk kembali kepada cucunya dirumah. Pak Kosim, sesosok tua yang setia sampai diusia senja berteman batu Akik, bersandar dan memohon kepada Illahi untuk dimudahkan segala urusan didunia dan diakherat. “Hidup hanya sementara cep, jangan bias dengan segala manis dunia. Hidup kekal dan selamanya adalah di akherat kelak”. Derita kesulitan hanya menjadi bagian penggalan nafas manusia yang sudah ditakdirkan hadir didunia. Perjalanan tidaklah panjang karena setelah didunia akan ada kehidupan lagi. Pak Kosim melangkah berjalan pulang, dengan rasa syukur akan hasil dagangan hari ini yang lumayan laris….untuk melanjutkan hidup…

Read Full Post »

Pulau Nusakambangan sangat dikenal sebagai Pulau yang berisi para tahanan kelas kakap di negeri ini. Tak kalah dengan di AS, Indonesia pun memiliki pulau penjara yang oleh para residivis se tanah air sebagai sekolah paling bergengi. Lulusannya berderet-deret dari berbagai jenis dan kelas tapi punya sertifikat kelas kakap.

Beberapa tokoh politik dan kriminal pernah berada disini seperti Kusni Kasdut (era 80-an), Jhony Indo (yang pernah melarikan diri dan berenang mengarungi lautan melewati ancaman kapal patroli dan ikan hiu – era 80-an), Tommy Soeharto, Bob Hasan, termasuk tersangka Bom Bali I-II, para napi GAM, dan banyak lagi.

Keangkeran Nusakambangan bahkan mengalahkan nama Cilacap. Maklum pulau dengan panjang sekitar 36 kilometer dan lebar enam kilometer, Nusakambangan sejak zaman Belanda dipakai untuk mengasingkan narapidana kelas kakap. Di pulau itu terdapat sembilan bangunan penjara peninggalan Belanda, yang dibangun antara tahun 1908 hingga 1912. Sekarang hanya tinggal empat penjara yang masih dipergunakan, yakni Penjara Besi, Batu, Kembangkuning, dan Permisan.

Karena resminya merupakan lembaga pemasyarakatan, akses wisata di tempat ini sangat terbatas. Belum seluruh pelosok pulau boleh dikunjungi wisatawan. Padahal, potensi Nusakambangan sebagai daerah tujuan wisata sangat menjanjikan, seperti lítala monumen Nusakambangan di Pelabuhan Sodong, pesanggrahan dan eks lembaga pemasyarakatan Buntu, Gua Pasir, Gua Kelelawar, Gua Bisikan, Gua Ratu dan Gua Putri, Kampung Laut, pantai Pasir Putih Permisan, Gua Kledeng dan bekas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Buntu. Selain itu ada Monumen Artlileri Benteng Pendem dan Mercusuar Cimiring, Cagar Alam Nusakambangan Timur, Gua Panembang, Gua Sikempis, Pulau Karangbandung, Gua Salak, Gua Ketapang, dan Gua Bantar Panjang, bekas penjara Nirbaya Gladagan, Cagar Alam Nusakambangan Barat dan Hutan Lindung Pohon Plalar.

Batu Akik dibalik Jeruji Besi

Di Balik penantian kebebasan, para narapidana banyak melakukan aktivitas-aktivitas, salah satunya adalah membuat kerajinan Batu Akik. Karena menjalani rutinitas dari balik terali besi tentu saja akan membuat jenuh para narapidana. Karena itu, untuk membunuh waktu hingga hari kebebasan tiba, mereka melakukan berbagai kegiatan yang sudah diagendakan oleh Lembaga Pemasyarakatan (LP), yang bersangkutan mulai dari pagi hingga petang hari.

Kegiatan yang dilakukan para narapidana itu bermacam-macam, antara lain, ada yang bercocok tanam di halaman LP, dan membuat kerajinan tangan. Semuanya itu dimaksudkan menjadi bagian dari pembinaan supaya para napi itu kelak keluar dari LP sudah memiliki bekal. Dan yang lebih penting lagi, mereka tidak mengulangi perbuatannya atau tidak akan kembali lagi menjadi penghuni LP.

Usaha kerajinan menggosok batu akik menjadi batu cincin, dilakukan dengan alat sederhana, yakni menggunakan kaca, mereka dapat mengolah batu akik itu menjadi barang yang memiliki keindahan.

Dari keempat LP di Pulau Nusakambangan itu, kegiatan penggosokan batu akik di LP Batu yang pernah dihuni Tommy Soeharto. Para narapidana setiap hari masuk bengkel dengan pelbagai alat modern seperti gurinda dan mesin untuk mengolah batu gunung itu menjadi barang seni. Tidak hanya dibentuk mejadi batu cincin, namun juga diolah menjadi barang seni lain seperti barang-barang hiasan berbentuk buah-buahan, vas bunga dan yang lain. Bob Hasan yang pernah menghuni satu tahun empat bulan di LP Batu, menjadi pemrakarsa kegiatan pengolahan batu akik di LP itu.

“Sebelumnya, para napi membuat batu akik menjadi batu cincin dengan menggunakan kaca sebagai bahan penggosok supaya menjadi licin dan mengkilat. Dengan cara itu, bisa-bisa menimbulkan bahaya. Karena bila terjadi keributan, maka alat-alat tersebut bisa digunakan untuk mencederai sesama. Atas dasar itu, maka peralatan pembuatan Batu Akik pun di perbarui.

Dengan kegiatan kerajinan batu itu, para narapidana sudah memiliki tabungan dari hasil upah kerjanya. Tabungan itu dikelola melalui Koperasi Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Batu.

Salah satu batu Akik yang dihasilkan disini adalah Batu Obsidian. Batu obsidian ini diambil dari gunung berapi seperti dari Pacitan dan Kalimutu. Batu-batu tersebut kemudian dikerjakan oleh sekitar 60 napi untuk dijadikan bermacam-macam batu hiasan dan pajangan. Ada yang berbentuk seperti buah apel, batu warna-warni dan vas bunga. Desain barang-barang kerajinan batu itu dibuat dari Jakarta, sedangkan para narapidana di LP Batu tinggal mengerjakannya. Dalam sebulan bisa dihasilkan sekitar 15 ribu biji batu hiasan dalam berbagai ukuran. Setelah itu kami tawarkan lewat situs internet dengan e-mail: Info@ island-jewels.com. Atas tawaran lewat situs ini sudah banyak negara yang memesan seperti dari Amerika dan beberapa dari Eropa. Kualitasnya Batu Akik cukup bagus, dan memiliki berbagai variasi. Harganya pun tak terlalu mahal Mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 150.000. Yang unik cincin yang membalut batu tersebut terbuat dari uang logam pecahan Rp 100,- dan ada juga Rp 500,-. Bagi anda yang sempat untuk mampir dan berkunjung ke Nusakambangan, silahkan untuk menikmati keindahan alamnya, dan melihat-lihat cincin karya para Napi menunggu hadirnya hari kebebasan.

Read Full Post »

 
 

Siapa yang tak tahu kota Batam? Hampir masyarakat pernah mendengarnya, hanya saja ada yang pernah berkunjung ke batam, dan hanya sekedar mendengar saja.

Batam adalah salah satu pulau yang berada di antara perairan Selat Malaka dan Selat Singapura. Penduduk asli Pulau Batam diperkirakan adalah orang-orang Melayu yang dikenal dengan sebutan Orang Selat atau Orang Laut. Penduduk ini telah menempati wilayah Pulau Batam sejak zaman kerajaan Tumasik (sekarang menjadi Singapura) di penghujung abad ke-13. Dari catatan lain ditemukan kemungkinan Pulau Batam telah didiami oleh Orang Laut sejak tahun 231 M yang di zaman Tumasik disebut Pulau Ujung. Pada masa jaya Kerajaan Malaka, Batam berada di bawah kekuasaan Laksamana Hang Tuah. Setelah Malaka jatuh kekuasaan atas kawasan Pulau Batam dipegang oleh Laksamana Hang Nadim yang berkedudukan di Bentan (sekarang menjadi Pulau Bintan). Ketika Hang Nadim menemui ajalnya, pulau ini berada di bawah kekuasaan Sultan Johor sampai pertengahan abad ke-18. Dengan hadirnya kerajaan di Riau Lingga dan terbentuknya jabatan Yang Dipertuan Muda Riau, maka Pulau Batam beserta pulau-pulau lainnya berada di bawah kekuasaan Yang Dipertuan Muda Riau sampai berakhirnya kerajaan Melayu Riau pada tahun 1911. Pada abad ke-18 Lord Minto dan Raffless dari Inggris melakukan barter dengan pemerintah Hindia Belanda sehingga Pulau Batam yang merupakan pulau kembar dengan Singapura diserahkan kepada pemerintah Belanda. Di abad ke-19, persaingan antara Inggris dan Belanda amat tajam dalam upaya menguasai perdagangan di perairan Selat Malaka. Bandar Singapura yang maju dengan pesat, menyebabkan Belanda berusaha dengan berbagai cara menguasai perdagangan melayu dan perdagangan lain yang melalui jalur itu. Akibatnya banyak pedagang menyusup ke Singapura secara sembunyi-sembunyi. Pulau Batam yang dekat dengan Singapura sering dimanfaatkan untuk berlindung dari gangguan patroli Belanda.

Saat ini cukup 30 – 45 menit untuk mencapai Singapura menggunakan ferry dari pelabuhan Sekupang atau Batam Center di Batam. Dengan kondisi geografis yang sangat strategis, Batam ibarat gula yang dikerubungi semut menjadi satu kota distrik yang menjanjikan untuk meraih untung dalam berbisnis. Tak heran berpuluh-puluh ruko (rumah toko), Shopping Mall, Lokasi Entertainment dan hotel dibangun dilahan-lahan kosong tengah kota, sehingga Batam benar-benar ibarat magnet yang menarik orang untuk berbisnis, tinggal, atau sekedar transit disini. Selama perjalanan di Batam, secara tidak sengaja Penulis menjumpai beberapa etalase penjual Batu Mulia dan Batu Akik, dengan kilatan pancaran batu mulia yang membuat penulis sedikit tertegun menatapnya.

Kilatan Batu Mulia di Nagoya Hill-Batam

Nagoya Hill adalah nama sebuah Shoping Mall (SM) di kota Batam, tepatnya dikawasan Nagoya, berdekatan dengan pusat penjualan handphone Lucky Plasa. Tidak hanya hypermarket yang beradu untung dengan pasar rabat yang lain, tapi juga ada Matahari yang kita kenal selalu menawarkan busana berbandrol diskon besar-besaran. Selain tempat belanja, di kawasan sekitar SM Nagoya Hill terdapat puluhan resto yang siap melayani hasrat kelaparan pengunjungnya. Rupanya tak hanya itu. Tepat didepan Hypermarket terdapat stand penjualan Batu Mulia yang cukup menarik perhatian penulis dan pengunjung yang datang.

Batu Mulia dan Batu Akik yang ditawarkan disini sangat bagus, berkualitas, dan sangat lengkap. Sebutlah Safir Ceylon (plus ster) berbagai ukuran, Topas, Kalimaya (Opal), Ruby Birma, Ruby Madagaskar, sedangkan yang masuk dalam golongan Batu Akik terlihat Rambut Cendana, Akik Panca warna, Pirus, bahkan Badar besi pun ada. Dan hampir semua akik yang ditawarkan berasal dari thailand serta khawasan-khawasan seputar asia, walaupun ada beberapa yang dari pacitan serta kalimantan. Harga yang ditawarkan untuk Safir Ceylon yang berukuran besar sekitar Rp 17,5 Juta, yang agak kecil Rp 6,5 Juta. Harga yang sangat fantastis bagi yang paham batu, dan harga yang tak masuk akal bagi yang tidak menyukai Batu Mulia.

Tapi jangan salah, Safir yang ditawarkan kualitasnya sangat bagus, dan memiliki ster berjumlah 6. ”Ini asli gosokan dan bukan ster suntikan” tukas pak Amin penjual batu ini. Sambil menikmati indahnya batu-batu yang diterpa lampu sorot, mata penulis tertuju pada keindahan Akik Panca warna yang dipasang disudut etalase. Rupanya Akik Panca Warna ini bukan berasal dari Indonesia, tapi dari Thailand…pantas kalo dibandrol seharganya Rp 500.000,- sangat berbeda jauh dengan harga akik panca warna di rawa bening Jakarta-Timur yang dapat ditawar seharga Rp 75.000,- tapi berasal dari pacitan.

Mungkin ada perbedaan proses teknologi pemotongan dan penggosokan yang dilakukan para produsen Indonesia dan di Luar negeri (misal Thailand, Srilangka, dan negara penghasil lainnya). Inilah yang membuat harga pasaran batu Mulia dan Batu Akik yang berasal dari luar memiliki kualitas sangat bagus dan indah (dari Ketajaman serat batu, serta pancaran cahaya yang dihasilkan). Tak heran mereka berani memberi harga belasan Juta untuk batu-batu ini, walaupun sebenarnya bisa di nego. Cuma walau masih nego, untuk ukuran saat ini dimana harga minyak, dan bahan pokok lainnya merangkak naik, hasil negonya pun masih tetap berasa mahal.

Etalase Julian Permata di Bandara Hang Nadim-Batam

Sore menjelang petang, langit batam meredup dengan hadirnya awan gelap disekitar area bandara, pintu gerbang langit dimana orang berlalu lalang untuk masuk dan keluar kota Batam. Setelah berjalan sekitar 40 menit melesat dari kota, akhirnya sampailah penulis di Bandara Hang Nadim. Memasuki area check in dan melangkah naik ke lantai dua, penulis kembali menemukan satu Etalase Batu Mulia Julian-Permata. Lagi-lagi penulis mempersilahkan keinginan hatinya untuk melongok sekedar melihat dan menikmati pancaran keindahan batu Mulia yang digelar disini. Tidak berbeda jauh dengan etalase batu Mulia yang berada di SM Nagoya Hill, hampir semua Batu Mulia yang ditawarkan sangat berkualitas, dan tentu saja disini harga sedikit lebih mahal. Karena pasar dan biaya sewa stand yang mungkin dibebankan pada harga batu-batu ini.

Cuma saja penulis tidak menjumpai adanya Batu Akik ditawarkan disini. Semua adalah Batu Mulia, seperti Safir, Topas, Aquamarine, Quartz, Zamrud, dan Ruby Birma. Sekilas penulis melihat satu batu dengan dua warna (merah dan putih) yang berasal dari golongan batu Mulia Ruby Birma. Harga yang ditawarkan dengan ukuran kecil cukup fantastis sekitar Rp 2.500.000,- belum diikat menggunakan emas ataupun perak. Jangan bandingkan harga disini dengan di PGJ Jakarta Timur, karena jelas-jelas barang yang ditawarkan dibandara tentu saja untuk segmen masyarakat yang dilihat mapan dari sisi ekonomi. Walaupun dengan ukuran Ruby birma sekecil itu tentu saja cukup mahal bila dibandingkan dengan harga pasaran di PGJ atau Pasar Rawa Bening – Jakarta. Selain ruby birma, penulis sempat bertanya tentang pasaran Safir Ceylon yang ditawarkan. Harga disini tidak semahal di nagoya hill, cukup Rp 5 juta kita sudah bisa membawa pulang 1 buah Safir Ceylon ukuran sedang. Tapi setelah diteliti, rupanya kualitas Safir di Nagoya Hill jauh lebih bagus dan kristalnya mantap di banding yang ditawarkan di Bandara Hang-Nadim. Sebenarnya pasar batu Mulia cukup bagus, hanya saja untuk Batu Mulia harganya diatas pasaran Batu Mulia di jakarta. Hal ini mengganggu persepsi masyarakat bahwa barang-barang di Batam harganya miring. Mungkin untuk elektronik bisa jadi miring. Taoi kalau untuk Batu Mulia yang memiliki kelas dan golongan peminat tersendiri rupanya hukum harga murah di Batam tidak berlaku lagi. Berangkat dari sini, bisa kita simpulkan bahwa sebenarnya penggemar Batu Mulia memiliki kelas tersendiri seperti kolektor-kolektor barang antik, mobil kuno, atau yang lain, karena untuk memenuhi hasrat keinginan akan Batu Mulia, kolektor harus merogoh kantong setelah semua kebutuhan pokok hidupnya terpenuhi. Artinya masih ada uang lebih setelah memenuhi kebutuhan primer dalam hidupnya.

Nikmatnya Sop Ikan Yongki-Batam

Batam bukan hanya dikenal sebagai pusat bisnis elektronika, handphone, ataupun barang yang lain. Makanan khas yang cukup terkenal yang berasal dari Batam adalah Sop Ikan dengan Brand nya Sop Ikan – Yongki – Batam. Melewatkan waktu berlabuh di kota Batam, rasanya ada yang kurang bila tidak menyempatkan diri untuk mampir sejenak menikmati kelezatan di Sop Ikan Yongki ini. Makanan utama yang ditawarkan adalah Sop Ikan, yang terdiri dari bermacam-macam seafood didalamnya. Tak hanya itu, untuk memenuhi hasrat lapar pelanggannya, Resto ini juga menyediakan menu makanan yang beragam, seperti ayam goreng kering, ayam goreng tepung, serta makanan lain yang rasanya tak kalah menarik dengan Sop Ikan. Lokasi Sop Ikan Yongki di Batam ada beberapa tempat, bahkan cabang dibuka sampai Jakarta, Medan, dan Bandung. Untuk di Batam sendiri lokasi yang paling ramai adalah Sop Ikan yang berada di area pertokoan Nagoya. Ketika jam mendekati pukul 12.00, secara sporadis para peminat Sop Ikan ini berdatangan dan mulai memadati hampir semua tempat duduk yang tersedia dari lantai satu sampai lantai dua. Semua iramanya adalah sama yaitu “I want to take a lunch”.

Tak heran bila terlambat sedikit untuk bersantap makan siang, kita musti rela menunggu sambil menahan lapar. Kenikmatan Sop Ikan ini sebenarnya tidak sebanding dengan kemurahan harga yang ditawarkan. Cukup dengan Rp 21.000,- kita sudah bisa merasakan kelezatan menikmati Sop Ikan Yongki khas kota Batam disertai dengan segelas teh obeng. Lokasi di Nagoya cukup strategis, karena berada di tengah pertokoan yang menawarkan barang-barang seperti elektronik, sepatu, dompet, serta diantara toko yang menawarkan oleh-oleh khas batam seperti coklat roka dan makanan lain. Bagi anda yang sempat berlabuh ke batam, jangan sampai terlewat untuk menyempatkan mampir ke Sop Ikan Yongki di Batam, rasakan nikmatnya sop Ikan dengan cucuran keringat karena kelezatannya.

 
 

Read Full Post »