Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Potret Kehidupan’ Category

Bandung Beautiful Euy – Masjid Agung Bandung bukan lagi tempat yang asing bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Setiap hari, masjid Agung Bandung tak pernah ssepi dari pengunjung, apalagi pas libur sekolah tiba. Letak Masjid Agung Bandung yang berada di tengah-tengah kegiatan komersial yang amat padat, merupakan ciri utama yang dimiliki Masjid Agung bandung. Di tengah hiruk-pikuk kawasan perbelanjaan atau `shopping`, perkantoran, perbankan, hiburan, dan segala macam bisnis lainnya termasuk tempat berjubelnya kaki lima yang merampas hampir seluruh trotoar pejalan kaki, masjid agung berada di sana. Tidak hanya itu, teras Masjid Agung dan halaman rumputnya menjadi tempat pengunjung untuk melepas lelah, ada yang sekedar duduk, atau tidur disana. Interaksi ini menjadi semacam rantai simbiosis mutualisme yang tak dapat lepas. Dimana para penjual dan pengunjung sama-sama membutuhkan sesuai hukum pasar yang berlaku.

Waktu terus berjalan, tanpa disadari, hari demi hari tampilan masjid semakin seperti tenggelam dalam lautan hiruk pikuk segala macam aktifitas tersebut di atas. Apalagi setelah dibangunnya pagar yang tinggi di depan/sebelah timur bangunan masjid, maka masjid agung seperti hendak menghindar dari tekanan-tekanan dari luar yang boleh jadi memang mengganggu. Faktor keamanan misalnya, memang suatu hal yang perlu diselesaikan. Keberadaan security Masjid seperti tidak berdaya ketika puluhan pedagang dengan gerobaknya seperti menjadi penghuni tetap dalam menjalankan usahanya.

Masjid Agung Bandung sepertinya perlu diintegrasikan keberadaan dengan lingkungan sekitarnya. Jadi tidak memisahkan diri atau malah meninggalkan lokasinya sekarang ini (dipindah).Yang berarti juga bahwa masjid harus diintegrasikan keberadaannya dengan hiruk-pikuknya aktifitas komersial. Tentu bukan berarti digabung, tetapi diintegrasikan secara serasi, harmoni dan seirama. Syiar-syiarnya juga harus lebih ditampakkan. Berarti pula bahwa ciri religius dalam ruang dan bentuk arsitektur serta ruang kotanya perlu lebih diekspresikan sehingga tampil menjadi sentral kawasan pusat kota khususnya dan Kota bandung pada umumnya.

Menurut sumber, dalam perjalanan sejarah yang hampir melampaui masa dua abad, Masjid Agung Bandung pernah mengalami `zaman keemasan` yakni ketika dipimpin oleh ulama yang juga sastrawan dan filosof Hoofd Penghulu Bandung Haji Hasan Mustafa.

Masjid Agung di tahun 1930-an tersebut paling menonjol fungsinya sebagai pusat ibadah dan sosial penduduk kota. Gaung kohkol dan bedugnya masih terdengar di seantero penjuru kota. Masjid menjadi tempat merayakan Mauludan, Rajaban, Shalat Ied dan belajar mengaji. Ia juga menjadi tempat baitul mal yang menerima zakat fitrah dan mengurusi kesejahteraan umat.

Setia sampai usia senja-Batu Akik di Masjid Agung Bandung

Pak Kosim, 79 th adalah salah satu pedagang, yang biasa menggelar dagangannya di pelataran utara masjid Agung Bandung. Dengan fisiknya yang mulai senja, lengkap dengan kacamata kuno, terselip sebatang rokok, dan Batu Akik Madu dijari manis tangan kanannya, Pak Kosim sabar menunggu dagangannya dilirik para pengunjung masjid. Deretan batu akik yang ditawarkan tidak banyak, hanya sekitar 20 biji yang sudah siap pakai (sudah diikat), dan sekitar 10 biji yang belum diikat. Kebanyakan akik yang digelar adalah Batu Akik dari keluarga Sulaeman dan Akik Badar, Seperti Sulaeman Mega, Sulaeman Wulung, tapi ada juga badar asem, badar bumi, badar lumut, Batu Wulung, dan sedikit batu permata seperti kecubung kecil. “Lamun ti Sulaeman teh aya 270 jenis cep” ujar pak Kosim sembari menghabiskan batang rokoknya yang sudah hampir habis. Setiap hari pak Kosim berangkat dari rumahnya di kawasan Pagarsih-Bandung menggunakan angkutan umum dan kembali pulang setelah sholat Ashar sekitar pukul 16.00 WIB.

Pak Kosim adalah salah satu dari sekian ribu masyarakat bandung yang masih terus bertahan hidup dengan segala kekuatan fisik yang dimiliki. Di usia yang sudah terbilang senja, 79 th, pak Kosim tetap sabar berikhtiar akan rejeki Allah SWT melalui usaha dagangnya dengan menawarkan batu Akik yang dimilikinya.

Ada keuntungan tersendiri bagi pak Kosim, karena di Masjid Agung hanya pak Kosimlah yang menawarkan Batu Akik. Kalau Tasbeh dan minyak sudah banyak pesaingnya. Penulis cukup tertegun dan sempat merenung, terbayang Ayahnya yang telah tiada di usia 72 th. Selisih 7 th dengan pak Kosim gumam penulis. Tapi karakter kehidupan serta semangat yang dimiliki pak Kosim mengingatkan pada Almarhum Ayahnda penulis yang telah kembali ke hadirat Illahi tahun lalu.

Sore telah menjelang, adzan sholat Ashar telah berkumandang. Tepat pukul 15.45 pak Kosim mulai membereskan dagangannya yang terdirik dari Batu Akik, Tasbeh, Filter rokok, dan sedikit minyak non alkohol. Tak terlihat kesedihan kesulitan hidup yang mungkin sudah menjadi teman sehari-hari baginya, tak terlintas dimatanya kelelahan akan menjalani setiap jengkal jalan untuk kembali kepada cucunya dirumah. Pak Kosim, sesosok tua yang setia sampai diusia senja berteman batu Akik, bersandar dan memohon kepada Illahi untuk dimudahkan segala urusan didunia dan diakherat. “Hidup hanya sementara cep, jangan bias dengan segala manis dunia. Hidup kekal dan selamanya adalah di akherat kelak”. Derita kesulitan hanya menjadi bagian penggalan nafas manusia yang sudah ditakdirkan hadir didunia. Perjalanan tidaklah panjang karena setelah didunia akan ada kehidupan lagi. Pak Kosim melangkah berjalan pulang, dengan rasa syukur akan hasil dagangan hari ini yang lumayan laris….untuk melanjutkan hidup…

Advertisements

Read Full Post »

Setiap kematian adalah nyanyi sunyi…setiap kematian adalah sebuah kesepian yang tak terperi. Kematian adalah kesendirian. Bahkan kematian adalah kengerian yang terbayangkan. Bagaimana mungkin bisa membayangkan kematian ketika kita tidak pernah merasakan?

Kinilah saatnya merenung, bertanya kepada diri sendiri, sudah siapkah kita untuk mati? Bukan, bukan untuk mati, melainkan mengarungi hidup sesudah mati…

Tahun dan bulan terus berlalu, hari, jam, menit, dan detik berjalan menggiring waktu sejalan detak jantung tiap manusia. Hidup adalah semakin mendekati kematian, dan pasti akan datang tamu terakhir dalam hidup masing-masing dari kita. Entah besok hari, minggu depan, bulan depan, tahun depan, tak ada satupun yang tahu…

Sekilas doa dan harapan terlintas….Ya Rabbi, bimbinglah kami untuk memahami dan menggenggam makna kematian, jangan biarkan kami putus asa akan kematian, tapi bimbinglah kami untuk dapat menjadikan kematian sebagai semangat untuk hidup sebaik-baiknya menuju ridlomu sampai ajal menjemput….

Read Full Post »

Gasibu-Bandung. Hari minggu pagi adalah hari dimana hiruk pikuk pedagang yang menjajakan dagangannya, dan masyarakat yang ingin sekedar melihat-lihat dan berolah raga di Gasibu-Gedung Sate dan sekitarnya. Memang, di setiap hari minggu pagi sampai siang pukul 13.00 Gasibu-gedung sate dan sekitarnya menjadi lahan ratusan pedagang makanan, alat-alat rumah tangga, elektronik, pakaian, tanaman hias, kerajinan tangan, sampai sayur-sayuran dalam menggelar dagangannya. Tak dipungkiri lagi saat event ini berlangsung, kemacetan lalu lintas tak terhindarkan lagi. Ironisnya tidak ada 1 polisipun yang mampu mengatur agar kepentingan pengguna jalan, dan pedagang dapat sama-sama lancar. Tapi ya inilah fenomena yang ada.

Disisi lain, bagi masyarakat pecinta oleh raga dan sekaligus cuci mata mencari keperluan sehari-hari, disinilah tempatnya barang yang sangat murah dan terjangkau. Tengoklah kaos dijual dari harga Rp 15.000, sedangkan celana jeans seharga Rp 50.000,-. Belum lagi peralatan masak dari aluminium bisa kita dapatkan hanya dengan Rp 20.000,-. Ya tentu saja ada harga ada barang, tapi untuk memenuhi hasrat pembeli, pedagang telah menyiapkan harga dan tentu kualitas yang sepadan.

Diantara ratusan pedagang yang mayoritas adalah pedagang pakaian, dan makanan, ternyata terdapat juga dua orang pedagang khusus Batu Akik. Bagi masyarakat yang sekedar berjalan-jalan, tak jarang mampir ke lapak batu Akik yang digelar di gasibu. Dengan cukup menggelar tas serta kotaknya beralaskan plastik terpal, pak Ujang (46th) mulai menjajakan deretan koleksi batu Akiknya bagi peminatnya. Batu yang dijajakan beragam, mulai dari batu Asli sampai dengan Batu Sintetis. Rata-rata batu sintetis adalah batu mulia seperti topas, king safir, merah siam, dan ada juga zamrud. Tapi kalo Batu Akiknya, pak Ujang menjamin ini batu asli dan tidak sintetis. Batu akik yang dijajakan terlihat tapak jalak, badar besi, pirus, batu sulaeman, dan beberapa akik pasir emas. Tidak hanya orang yang berusia dewasa, rupanya anak remaja, dan ibu-ibu pun banyak yang melihat-lihat dan mencoba, menawar dan akhirnya membeli. Harga yang ditawarkan pun cukup murah, untuk badar besi dibandrol Rp 5.000,-, sedangkan pirus Rp 15.000. Begitu juga tapak jalaknya. Untuk batu sintetis, pak Ujang cukup menawarkan Rp 20.000 dan biasanya jatuh pada harga Rp 15.000,-

Pak Ujang setiap minggu pagi selalu berdagang di sisi barat lapangan gasibu. Dan untuk hari-hari biasa, dia bergabung dengan rekan yang lain di perempatan Jl.Pungkur dan Jl.Otista bandung. ”Ya lumayan dik, buat tambah-tambah penghasilan. Disini yang jual akik jarang, jadi kita posisinya meunang” ujar pak Ujang. Dalam sehari, pak Ujang bisa mendapatkan Rp 200.000,- sampai Rp 300.000,- dari berdagang akik ini karena ternyata tidak hanya jual batu akik, tapi pak Ujang juga menjual mustika (pusaka) dan pasang-ikat batu yang terbuat dari aluminium dengan harga Rp 15.000,- per batu.

Batu akik ternyata tetap memiliki posisi di masyarakat, karena yang datang ke pak Ujang rata-rata tidak mengerti benar tentang batu akik atau pun batu permata, dan masih dipandang sebagai kebutuhan tersier dalam memnuhi kebutuhannya. Cukup unik memang, diera dimana orang hiruk pikuk berbelanja fashion, elektronik, hp 3G, dan segala sesuatu yang bersifat hi-tech, ternyata batu Akik masih memiliki segmentasi yang beririsan dengan segmentasi yang berbau Hi-Tech tersebut. Batu Akik tidak harus berbau klenik/mistik walau banyak masyarakat menyatukan keduanya. Tapi semua dikembalikan kepada pribadi masing-masing….dan pak Ujang ini adalah sebagian dari kita yang berkarya mendapatkan rejeki Illahi dari berjualan batu akik untuk memenuhi segala himpitan kebutuhan ekonomi yang kini makin sulit…

Read Full Post »

Dibawah rindangnya taman citarum bandung…beberapa pedagang barang bekas berikhtiar akan rizkinya…

Bandung beautiful euy….Berjalan dibawah rimbun dan teduhnya taman citarum bandung serasa menyejukkan dan menyegarkan dada. Waktu masih belum terlalu siang, tapi beberapa pedagang barang bekas sudah mulai menggelar dagangannya di trotoar taman, persis persimpangan antara Jl.Citarum dan Jl.Cilaki sekitar 100 m dari masjid besar Istiqomah kota Bandung yang rimbun dan sejuk. Ada sekitar 10 orang yang rata-rata berusia 45 th keatas, bahkan ada yang namanya pak Husni yang berusia hampir 70 th ikut menjajakan barang-barang bekas yang alakadarnya. Barang yang dijual mulai dari sepatu bekas, tas, baju, kalung, gelang, kacamata, jam tangan sampai joystick playstation, bahkan Handphone dan kamera digital. Harga yang ditawarkanpun tidak terlampau mahal dan cenderung pada segmen ekonomi kebawah, disertai kualitas barang memiliki kondisi yang cukup memprihatinkan alias barang lama tapi bukan kuno. Memang di taman citarum ini tak banyak pedagang barang bekas, karena sebenarnya pusat barang-barang bekas untuk di kota Bandung terletak di Jl.Arjuna (Jatayu) sekitar 10 km kearah Bandara Husein Sastranegara. Pak Usman (46 th) adalah salah satu pedagang barang bekas yang juga menjual batu akik ini. Bapak yang baru mangkal di taman citarum ini sudah 1 tahun. Sebelum berdagang keliling. Tapi karena faktor usia dan kesehatan badan, akhirnya pak Usman ikut nimbrung menggelar dagangannya disini. ”Apalagi jaman sekarang dik, apa-apa mahal, janten ya dagang kiye wae tos cukuplah” ujar pak Usman disertai senyumnya.

Ada sesuatu yang unik disini, terselip diantara barang-barang bekas yang telah lama, yaitu 1 boks deretan batu Akik. Rupanya batu Akik ini hasil borongan dari sekian barang-barang yang dibeli saat tetangganya pindah rumah ke garut ujar salah seorang penjual. Batu Akik yang dijual cukup kuno, seperti Batu sulaeman combong, Pirus, Topas sintetis, Wulung, Kecubung, Giok, dan beberapa seperti batu akik fosil kayu. Harga yang ditawarkan untuk 1 batu akik tak begitu mahal, antara Rp 10.000 sampai Rp 30.000.

’”Nha nu ieu batu akik ti garut, lamun ieu ti banten” sambil menunjuk kearah batu-batu tua itu. Jangan membandingkan dengan batu permata di Plasa Indonesia atau Bandung Super Mall yang nota bene berharga jutaan, karena batu Akik ini memang hanya sebagai barang dagangan sisipan yang tidak pernah diseleksi kualitasnya sebelum dijual. Ya maklum, ini kita berhadapan dengan salah satu dari jutaan pedagang barang bekas yang tersebar di seluruh Indonesia disaat dimana jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskin makin menganga lebar. Tapi siapa yang perduli kalau tidak diri sendiri.

Hari semakin siang, terik matahari sudah menerobos kuat diantara dedaunan pohon asam yang meneduhi mereka. Satu persatu pedagang berkemas pulang. Jadi rupanya jam dagang mereka hanya dari jam 08.00 sampai jam 13.00 tapi ada juga yang sampai jam 15.00. Terlepas dari apa dan siapa mereka, fenomena ini adalah bagian dari potret kehidupan yang seharusnya membuat kita yang masih mampu bekerja tanpa harus berjemur dibawah terik matahari, untuk terus mengaplikasikan rasa syukur kepada Illahi di keseharian kita. Tak hanya kita berucap Alhamdulillah bahwa kita diberikan rejeki berlimpah, keluarga yang sehat dan sejahtera. Tapi yang penting aplikasinya dikeseharian yang tercermin pada kepedulian pada sebagian masyarakat kita yang berada di area marginal di sisi kehidupan kita….

Read Full Post »

Jakarta-Menit bergerak cepat memburu angka tepat pada 16.30 WIB. Serombongan orang segala usia, segala kelamin, berdiri menepi menghadap kearah yang sama, pada jarak yang sama yaitu kira-kira 2 meter antara 1 sama lainnya. Itulah Joki 3 in 1 di Jakarta. Itulah dampak dari KEPUTUSAN GUBERNUR PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 4104 / 2003 TENTANG PENETAPAN KAWASAN PENGENDALIAN LALU LINTAS DAN KEWAJIBAN MENGANGKUT PALING SEDIKIT 3 ORANG PENUMPANG PER KENDARAAN PADA RUAS-RUAS JALAN TERTENTU DI PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA. Tidak dipungkiri lagi, bahwa ini adalah para Joki 3 in 1 yang biasa mangkal dipinggir jalan protokol Ibukota pada jam berlakunya 3 in 1 (07.30-10.00 dan 16.30-19.00). Fenomena ini sejalan dengan lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan angkatan kerja, kenaikan barang-barang pokok tak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh, jumlah penduduk yang melebihi kapasitas, dan membuat Jakarta ini semakin padat dan letih menanggung beban segala macam persoalan masyarakat. Makin banyaknya peraturan yang menyulitkan pengendara mobil ini membawa akibat pada merosotnya tingkat kedisiplinan di jalan, toleransi pada sesama pengendara, dan lain-lain yang diyakini atau tidak sudah bertolak belakang dengan tujuan dikeluarkannya peraturan untuk mengurangi kemacetan Ibukota yang sudah makin renta ini. Ironis dan menyedihkan.

Joki 3 in 1 sebagai masalah atau solusi?

Tak tahu sampai kapan Joki 3 in 1 ini terus beroperasi. Apakah kondisi ini terus berjalan sambil menunggu munculnya penghapusan semua angkutan bermotor sehingga Jakarta hanya ada pejalan kaki atau fenomena ini takkan pernah berakhir selamanya, dan akhirnya nanti jalan-jalan protokol Jakarta akan makin macet karena makin banyaknya orang berebut berdiri di pinggir jalan untuk menjadi joki 3 in 1? Hidup di Jakarta memang sebuah tantangan sampai maut menjemput individu per individu, dan digantikan dengan generasi yang sudah tercipta dan terdidik menjadi atlit lompat tinggi dan berburu. Sehingga cenderung meraih eksistensi setinggi-tingginya dengan segala trik untuk memakan sesama.

Fenomena Joki 3 in 1 sebenarnya adalah fakta, tapi apakah ini yang disebut pembukaan lapangan kerja atau profesi baru? Sebagai Joki 3 in 1. Bisa dijawab iya oleh sebagian masyarakat, bisa juga tidak oleh Menteri Tenaga Kerja. Karena profesi ini dianggap ilegal. Tapi jangan salah ratusan bahkan ribuan profesi ilegal bertebaran dijakarta bahkan di seluruh Indonesia. Mulai dari tukang parkir liar, sampai preman, bahkan sampai calo yang biasa bersandar ditembok sebuah Pengadilan untuk melancarkan proses kasus perorangan. Cukup ironis bila kita bisa mau melihat dengan mata hati yang jernih. Tapi sayang rupanya banyak perangkat atau anggota masyarakat yang lebih baik membutakan hati, daripada harus mencari solusi untuk mengatasi problem lapangan kerja yang berujung pada penyakit masyarakat. Alhasil, tidak ada yang perduli. Gerakan Disiplin Nasional atau Kepedulian Nasional hanya menjadi slogan dan order untuk para penyedia jasa pembuatan Banner atau Spanduk. Semua hanya seremonial yang berujung pemberian penghargaan dan tepuk tangan. Setelah itu?….sepi tak ada yang peduli lagi dengan orang-orang dibawah Jalan layang, Joki 3 in 1 yang makin hari makin berjubel melebihi jumlah mobil yang lewat, dan hal lain yang semakin kompleks dan melelahkan untuk dipikirkan.

Kota ini seperti kehilangan orientasi. Karena tak tahu arah pembangunan mau kemana. Seperti yang baru kita peringati tanggal 20 Mei 2008 sebagai hari Kebangkitan Nasional. Pertanyaannya adalah Bangkit dari apa? Bangsa Indonesia kini bukan lagi bangsa terjajah. Sehingga Kebangkitan ini masih tanda tanya. Bangkit dari moralitas rendah? Dari kebodohan? dari kemiskinan? Dari maraknya korupsi? Atau dari apa? Inilah yang menyebabkan saat ini semua bergulir apa adanya tanpa orientasi yang jelas. Hal ini tercermin pada Jakarta sebagai Ibukota negara ini. Akan menjadi Ibukota Negara? Atau sekalian pusat bisnis, ataukah hutan rimba? Yang didalamnya lengkap dengan segala profesi, dari mulai Ustad, sampai dengan pemakan manusia?…Tapi apa yang bisa diperbuat…sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sekolah saja, si Udin harus menyempatkan diri menjadi Joki 3 in 1 seusai jam sekolah selesai. Atau mungkin disaat teman sekolahnya yang ditakdirkan sebagai orang ”mampu” sedangkan jalan-jalan di Mall, sedangkan Udin harus berdiri melambai-lambaikan tangan mengharap untuk dapat order sebagai Joki dengan imbalan Rp 10.000,- sekali jalan. Ah…rupanya permasalahan ini tak kunjung usai, dan tak akan ada yang bisa menyelesaikannya, karena terlalu banyak permasalahan di kota ini tanpa tahu ini sebenarnya tanggung jawab siapa. Peraturan hanya peraturan, pelanggaran hanyalah pelanggaran dengan jalan damai tanpa bisa mendidik masyarakat ini menjadi tertib dan disiplin. Mungkin tidak semua, tapi rupanya yang disiplin pun ikut menjadi tidak disiplin karena banyak temannya…Akhirnya dengan berlalunya waktu, semua seperti tidak terjadi apa-apa…entah pendapatan ini halal atau haram, yang penting menghasilkan uang…Ironis dan dilematis memang.

Read Full Post »

Lapak akik bandung menatap masa depan….

Bandung beautiful euy…Melintas dikeramaian Pasar Baru Jl.Oto Iskandardinata (Otista) Bandung serasa kurang pas bila para pecinta batu akik tak menyempatkan untuk mampir di pasar akik bandung. Sebenarnya disebut pasar juga bukan, karena yang ada sekarang hanyalah lapak-lapak dipinggiran jalan, tepatnya di perempatan lampu merah Jl.Otista dan jl.Pungkur. Diteriknya panas matahari siang hari, debu jalanan tak membuat para pecinta batu akik untuk segera beranjak dari keasyikan mengamati atau hanya sekedar ngobrol sembari tawar menawar disini.

Ada atmosfir keunikan tersendiri ketika penulis mampir disalah satu penjual yang memiliki koleksi cukup banyak bebatuan. Mulai dari batu mulia sampai dengan pernak-pernik barang yang biasa dipakai untuk ritual tertentu, dan benda-benda yang diyakini memiliki tuah. Tengoklah gambar disamping ini, tidak hanya batu akik atau batu mulia yang dipajang, tetapi terdapat juga keris, geliga kelapa, replika uang kertas (yang biasa digunakan untuk menggadakan uang secara supranatural), bulu domba, kuku macan, dan beberapa minyak serta tak ketinggalan adalah kayu bertuah yang disebut dengan bambu pethuk atau pring pethuk (jawa tengah-red).

Kayu bambu ini diyakini memiliki khasiat mendatangkan rejeki berlimpah bagi pemakainya. Tapi tentu saja untuk mendapatkannya perlu pengetesan dan harga yang tidak murah. Begitu juga bulu domba dan kuku macan yang memiliki khasiat serupa. Tak hanya berupa barang yang ditawarkan, tapi ada juga minyak yang memiliki khasiat, yaitu minyak misik hajar aswad, dan minyak buluh perindu yang diyakini sekelompok orang dapat digunakan sebagai pengasihan. Selain benda-benda yang telah disebut diatas, dijual juga tasbih yang terbuat dari kayu Stigi dengan harga Rp 10.000 – Rp 30.000,-

Sebutlah pak Oman (48 th) yang sudah berjualan akik selama 20 tahun. Sebelum berada disini sebenarnya dulu sudah disiapkan penampungan yang cukup rapi dan elegan yaitu di King Plaza (Jl.kepatihan) tapi entah kenapa, tak lama disana rupanya sudah digusur dengan alasan gedung akan direnovasi. Tapi sudah hampir 5 tahun yang namanya King Plaza masih terlihat kosong tidak terawat dan jauh dari kata renovasi. Ya apa boleh buat, pak Oman dan beberapa rekannya akhir bertebaran disepanjang jalan Otista dan sebagian mangkal dilapak-lapak tepat diperempatan Otista-Pungkur.

Spesialisasi batu yang ditawarkan rata-rata ádalah batu Akik walaupun ada juga batu Mulia, seperti ruby, atau safir walau kualitasnya sangat jauh dari kata bagus. Ada juga beberapa batu sintetis yang sering si penjual mengatakan sebagai batu asli, seperti topaz, dan garnet. Ya ini Sangat beralasan, karena perputaran uang mereka tidak sebesar counter-counter besar yang dapat menjual batu Mulia seharga jutaan. Sehingga hampir semua penjual batu disini tidak banyak yang memiliki Batu Mulia berkelas. Tapi kalo berbicara masalah batu Akik yang langka seperti Batu Wulung, Badar Asem, Rambut Cendana, Sulaeman combong, dan sebagainya, mereka ini ádalah jagonya.

Keberadaan para penjual ini tidak terpusat, dan cenderung sporadis di sepanjang jl.Pungkur menuju kepatihan, dan kira-kira ada 5-8 pedagang yang menggelar dagangannya di perempatan Jl.Otista – Jl.Pungkur. Terik matahari kian terasa dan penulis beranjak menyusuri jl.Pungkur ketika Adzan Dhuhur terdengar lamat-lamat dari masjid Agung Bandung…memanggil umatNya untuk menunaikan Ibadah Sholat Dhuhur…

Read Full Post »

 
 

<>Jakarta sebenarnya bukan lagi kota yang serba mahal. Hanya gaya hidup dan pola hidup dijakarta ini yang mengakibatkan masyarakat harus mengeluarkan uang berlipat dibanding masyarakat yang hidup di kota kecil seperti garut atau ciamis. Tengoklah untuk masuk tol dalam kota saja sekali jalan, kita musti keluar Rp 5.500,- dan untuk parkir saja Rp 2.000,-/jam. Bayangkan saja bila kita tinggal di bekasi dan harus parkir dikantor selama 8 jam. Artinya uang yang musti keluar sebesar adalah Rp 27.000,-/hari. Belum lagi untuk uang bensin, yang takaran akan bertambah bila kondisi jalan macet diakibatkan banyak galian, dan demonstrasi yang sudah menjadi makanan sehari-hari. Capek memang hidup dijakarta, tapi mau apa dikata, disinilah banyak orang datang untuk bertaruh untung serta nasib demi material yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup.

Untuk urusan isi perut, jakarta memang gudangnya kuliner, dari makanan pinggiran jalan, sampai makanan di lantai 21 sebuah gedung di jakarta yang tidak hanya menyediakan makanan tapi juga menyediakan pemandangan indah malam hari dari ”roof top” yang serasa romantis. Kita tengok makanan di satu warung tegal di kawasan Benhil jakarta pusat. Harga sepiring nasi dengan 3 macam lauk non hewani kita cukup membayar Rp 5.000,-. Tak semahal yang dibayangkan, yang penting kenyang karena rasa daging atau tahu setelah masuk ke lambung tidak ada beda rasanya.

<>Bisnis warung tegal sementara ini menjadi tumpuan bagi sebagian masyarakat yang menyediakan jasa kuliner bagi masyarakat marginal di jakarta. Tapi dengan kondisi ekonomi yang dirasa sulit dengan ancaman kenaikan BBM,gas, dan bahan makanan yang semakin tinggi, para eksekutif muda pun melirik warung tegal menjadi tempat alternatif yang dilirik untuk melegakan hasrat perut di siang hari. Maklumlah, orang kantoran tidak dapat kenaikan gaji walau BBM akan naik. Lebih mending jadi PNS. Kenaikan BBM kadang di jadikan justifikasi untuk kenaikan gaji pegawai negeri di tahun depan.

Apakah masyarakat marginal terusik dengan para eksekutif kantoran ke warung tegal mereka? Bagi si pemilik warung ini adalah satu peluang, bahwa dagangan mereka tambah laris. Tapi disisi lain, dagangan mereka bisa terancam naik harganya juga lantaran minyak atau gas yang mereka gunakan untuk memasak ternyata tidak semurah seporsi nasi warung tegal mereka.

Ibarat balon berisi air. Dipencet disisi depan, menggelembunglah sisi belakang, demikian juga sebaliknya. Ini negeri punya kenyataan yang hampir mirim dengan belahan benua Afrika, dimana diam-diam masih banyak menyimpan anak-anak bahkan orang dewasa yang kurang gizi. Antri beras dan antri minyak bukan lagi pandangan tabu dijakarta. Sudah merdekakah kita? Atau ada penjajahan terselubung yang menguasai hajat hidup orang banyak, sehingga sebagian masyarakat tercekik? Mungkin perlu jadi menteri dulu untuk menjawab pertanyaan ini…

<>Kembali ke nasi warung tegal, untuk meneruskan hidup dijakarta, warung nasi tegal bisa menjadi alternatif terbaik untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yaitu makan. Bagi si pemilik yang sudah belasan tahun dijakarta pun warung tegal nya juga segini-gini tidak berkembang jadi sebesar padang sederhana atau natrabu. Mengapa? Ya karena si pemilik lebih memilih membela rakyat kecil dalam menentukan harga agar terjangkau oleh rakyat kecil. Idealisme ini telah berpuluh-puluh tahun melekat dan mendarah daging setiap kita menyebut warung tegal. Yang terlintas dibenak kita Cuma satu…pasti MURAH. Bisakah harga bahan pokok atau migas di Indonesia menjadi murah?? Let’s take answer by yourself.

 
     

Read Full Post »

Older Posts »