Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Ziarah ke alam barzakh’ Category

Setiap kematian adalah nyanyi sunyi…setiap kematian adalah sebuah kesepian yang tak terperi. Kematian adalah kesendirian. Bahkan kematian adalah kengerian yang terbayangkan. Bagaimana mungkin bisa membayangkan kematian ketika kita tidak pernah merasakan?

Kinilah saatnya merenung, bertanya kepada diri sendiri, sudah siapkah kita untuk mati? Bukan, bukan untuk mati, melainkan mengarungi hidup sesudah mati…

Tahun dan bulan terus berlalu, hari, jam, menit, dan detik berjalan menggiring waktu sejalan detak jantung tiap manusia. Hidup adalah semakin mendekati kematian, dan pasti akan datang tamu terakhir dalam hidup masing-masing dari kita. Entah besok hari, minggu depan, bulan depan, tahun depan, tak ada satupun yang tahu…

Sekilas doa dan harapan terlintas….Ya Rabbi, bimbinglah kami untuk memahami dan menggenggam makna kematian, jangan biarkan kami putus asa akan kematian, tapi bimbinglah kami untuk dapat menjadikan kematian sebagai semangat untuk hidup sebaik-baiknya menuju ridlomu sampai ajal menjemput….

Read Full Post »

Asy-Syaikhan (Al-Bukhari dan Muslim) meriwayatkan hadis dari Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Salah seorang diantara kalian tidaklah layak mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya. Seandainya terpaksa harus mengharapkan kematian, hendaklah ia mengatakan,’Ya Allah, biarkanlah aku tetap hidup jika hidup itu lebih baik bagiku, tetapi matikanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku’.” (H.R Syaikhan).

Abu Hurayrah r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian, tidak juga berdoa agar segera mati sebelum kematian itu menjemputnya. Ketahuilah, sesungguhnya apabila salah seorang di antara kalian meninggal, terputuslah amalnya. Sesungguhnya seorang Mukmin tidak bertambah umurnya kecuali hal itu akan menjadi baik baginya”.(H.R Muslim).

Masih dari Abu Hurayrah r.a. Ia meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda. “Tidak boleh salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian. Sebab, jika ia seorang yang baik, ia mungkin akan bertambah baik;jika ia seorang yang jahat, mungkin ia akan meninggalkan kejahatan itu”.(H.R Al-Bukhari dan An-Nasa’i)

Sedangkan Imam Ahmad, Al-Bazzar, Abu Ya’la, Al-Hakim, dan Al-Bayhaqi meriwayatkan hadis dari Jabir ibn ‘Abdillah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mengharapkan kematian, karena sesungguhnya tempat pengawasan adalah lebih menakutkan. Sesungguhnya diantara kebahagiaan bagi seseorang adalah panjangnya usia sehingga Allah memberikan kepadanya kesempatan untuk bertobat”.

Al-Mutthala’ adalah suatu tempat yang tinggi untuk melakukan pengawasan. Maksudnya dari kalimat tersebut adalah diawasinya semua urusan akhirat setelah kematian, yang diserupakan dengan tempat tinggi yang digunakan untuk melakukan pengawasan.

Anas r.a berkata,”Kalaulah Rasulullah SAW tidak melarang kami mengharapkan kematian, pasti kami akan mengharapkannya.”(H.R Syaikhan)

Qays ibn Abi Hazim berkata, “Kami pernah datang mengunjungi Khubab yang saat itu hendak membakar diri dengan tujuh kali bakaran. Ia lalu berkata, “Seandainya Nabi saw tidak melarang kita berdoa untuk memohon kematian, niscaya aku akan melakukannya.”

Al-Qasim, pelayan Mu’awiyyah, meriwayatkan bahwa Sa’ad ibn Abi Waqash pernah berdoa mengharapkan kematian, sementara saat itu Rasulullah SAW mendengarnya. Beliau bersabda “Janganlah engkau mengharapkan kematian, sebab seandainya engkau termasuk penghuni surga, tetap hidup adalah lebih baik bagimu;sementara jika engkau termasuk penghuni neraka, lalu apa yang mendorongmu ingin segera kesana?” (H.R Al-Mawarzi).

Ibn ‘Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak diperbolehkan salah seorang diantara kalian mengharapkan kematian, sebab sesungguhnya dia tidak mengetahui pemberian apa yang telah ditentukan bagi dirinya.”

Ummu al-Fadhl meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah mendatanginya ketika paman beliau,’Abbas, sedang dalam keadaan mengeluh sakit dan mengharapkan kematian. Beliau lantas bertutur kepadanya,”Paman, hendaklah paman tidak perlu mengharapkan kematian. Sebab sesungguhnya jika Paman memang orang yang baik, sementara kematian masih lama dan kebaikan Paman semakin bertambah, hal itu adalah lebih baik bagi Paman. Sebaliknya seandainya Paman termasuk orang jahat, sementara kematian masih lama, dan Paman meninggalkan kejahatan tersebut, hal itu pun adalah lebih baik bagi Paman. Oleh karena itu, hendaklah Paman jangan mengharapkan kematian”.(H.R Imam Ahmad, Abu Ya’la, Imam Ath-Thabrani, dan Al-Hakim).

Abu Harayrah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak diperbolehkan salah seorang diantara kalian mengharapkan kematian sebelum kematian itu menjemputnya, tidak juga berdoa untuknya, kecuali jika dia telah benar-benar yakin akan amal perbuatannya.” (H.R Ahmad).

Read Full Post »

Suatu hari ketika saya sedang berziarah ke Makam Imam Jalaluddin as-Suyuthi, salah satu dari dua ulama yang menulis Tafsir al-Jalalain, yang berada di kawasan Sayyidah Aisyah, tiba-tiba datang ‘ammu Mahmud, seorang tukang gali kubur di kawasan tersebut. ‘Ammu Mahmud, adalah guru sekaligus kawan lama saya yang tinggal di sebuah gubuk kumuh di tengah-tengah kuburan kawasan Sayyidah Aisyah. Saya mengenalnya ketika saat itu saya meminta ijin untuk ikut melihat secara langsung bagaimana proses penguburan yang biasa dilakukan di Mesir.

Begitu mendekat, ‘Ammu Mahmud langsung mengajak saya menghampiri sebuah bangunan pemakaman. Sambil menunjuk salah satu dharih, bangunan kuburan yang ditinggikan dan diberi atap, ia menuturkan bahwa kurang lebih setengah jam yang lalu ia baru saja menguburkan seorang konglemerat Mesir. Menurutnya, konglomerat tersebut memiliki sejumlah vila dan apartemen yang tersebar hampir di seluruh propinsi Mesir, Libia, dan bahkan juga di Inggris.

(more…)

Read Full Post »

Anas ibn Malik menuturkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Sesungguhnya amal-amal kalian itu diperlihatkan kepada kaum kerabat dan keluarga kalian yang sudah meninggal. Jika amal-amal itu baik, mereka pun merasa senang. Jika sebaliknya, mereka akan mengatakan, “Ya Allah, janganlah Engkau mematikan mereka sehingga Engkau memberikan petunjuk kepada mereka, sebagaimana Engkau telah memberikan petunjuk kepada kami.” (HR Ahmad, At-Turmudzi, dan Ibn Mundah)

(more…)

Read Full Post »

Manusia sesungguhnya tertidur;ketika mati,mereka terjaga (an-naas niyam;fa-idza matu,intabahu).Demikian sabda Rasul yang mulia.Ungkapan bernas ini tampaknya lebih merupakan peringatan ketimbang pelajaran.Rasul yang mulia sepertinya hendak mengingatkan kita bahwa hidup ini tidak lebih dari sekedar “mimpi” sesaat.Kita akan benar-benar terjaga justru setelah kita mati.Saat itu,kita akan sadar bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan setelah kematian.Dalam konteks ini ,memahami “realistis” kehidupan pasca-kematian akan senantiasa relevan dan signifikan bagi setiap Muslim.Tujuannya bukanlah semata-mata memahami makna kehidupan pasca kematian itu,melainkan juga lebih penting lagi memaknai hakikat kehidupan di alam fana ini.

Lewat buku ini,Imam Jalaluddin as-Suyuthi mencoba mengajak kita melakukan semacam “ziarah” ke alam barzakh sebuah alam penantian penuh misteri pasca-kematian yang diyakini akan menentukan nasib setiap manusia dalam menuju terminal akhir kehidupan akhiratnya:surga atau neraka.Buku ini berbicara tentang seluruh “realitas” yang mungkin dijumpai di alam barzakh. Di dalamnya diuraikan banyak hal:masalah kematian,keutamaan dan metodenya,sifat malaikat maut dan bala tentaranya,perkara yang dapat memalingkan orang menjelang sakratumaut,keadaan ruh setelah meninggalkan jasad,kondisi dia alam kubur,fitnah,siksaan,dan sebagainya.Semuanya itu disajikan dalam pembahasan yang cukup menarik dan sarat dengan muatan sufistik.Karenanya buku ini sangat penting dibaca sebagai bahan kontemplasi bagi siapa saja yang ingin mengarungi kehidupan ini secara lebih bermakna.

Read Full Post »

Adakah kita sudah benar-benar meyakini akan adanya hal-hal yang Gaib sesuai dengan rukun Iman ? Adakah perilaku kita sehari-hari sudah sebagai implementasi dari Rukun Iman ? Pertanyaan yang tidak dapat dijawab hanya dengan kata Ya, atau Tidak. Disadari atau tidak, ibadah amaliyah yang kita lakukan hanya sekian persen dari total waktu sehari yang dianugerahkan pada kita. Kecenderungan lupa dan tenggelam oleh permasalahan-permasalahan dunia cenderung memperparah karat dan kerapuhan hati manusia tentang untuk apa hidup sebenarnya….

(more…)

Read Full Post »

Dalam temaram senja…ku berharap…Dalam gelapnya hari ku berdoa…

Angin berhembus menyingkapkan segelintir cerita…yang terkikis oleh deburan waktu…

Pada butir-butir tanah ini ku bergumam….Pada rumput-rumput yang menyemak ini ku bersimpuh…

<>Apa yang kurang ku mengerti…

Sedang hari esokkupun ada disini…

Disini kelak aku kan berada…disini aku kan berhenti…

Hari makin gelap tapi kaki ku serasa tertanam disini…

(more…)

Read Full Post »